Judul Buku: Mbah Ma’shum Lasem; The Authorized Biography of KH. Ma’shum Ahmad
Penulis: M. Luthfi Thomafi
Editor: Abdillah Halim
Pengantar: KH. A. Mustofa Bisri
Penerbit: Pustaka Pesantren, Yogyakarta
Cetakan: I, April 2007
Tebal: xxx+ 318 halaman
Peresensi: Noviana Herliyanti

KH. A. Musthofa Bisri (Gus Mus), dalam pengantar buku ini menyebutnya, Lasem pernah memiliki dua “gembong” kiai yang sangat dihormati dan disegani terutama di kalangan warga Nahdlatul Ulama (NU). Kiai yang dimaksud Gus Mus adalah KH. Ma’shum Ahmad alias Mbah Ma’shum dan KH. Baidhowi Abdul Aziz alias Mbah Baidhowi.

Pada masanya, kedua kiai besar dan berpengaruh itu merupakan rujukan, tidak hanya bagi masyarakat dan para kiai lain di wilayah Rembang dan Lasem saja. Bahkan Prof. Dr. KH. Mukti Ali, salah satu santrinya yang menjadi Mentri Agama, ia selalu sowan kepadanya untuk memohon restu dan doanya, agar mendapatkan kesuksesan selama menjalankan tugas dan tanggung-jawab kenegaraannya.

Ada sebuah pesan dan nasihat Mbah Ma’shum, yang pernah diberikan kepada salah seorang tokoh NU, yakni Subhan ZE, “Engkau jangan sekali-kali membenci NU. Sebab, membenci NU sama dengan membenci aku, karena NU itu saya yang mendirikan bersama-sama ulama yang lain. Meski demikian, kau pun jangan membenci Muhammadiyah. Jangan pula membenci PNI (Partai Nasional Indonesia) dan partai-partai lain”.

Dari realitas dan pesan moral Mbah Ma’shum di atas, tidak berlebihan jika dia disejajarkan dengan ulama-ulama, tokoh pesantren dan tokoh-tokoh sentral NU lainnya. Dan sangatlah pantas sosok Mbah Ma’shum, kalau digolongkan sebagai kiai yang memang patut kita teladani. Karena, dari beberapa peran dan kiprahnya, ia semata-mata hanya mengabdikan diri untuk santri dan masyarakatnya, lebih-lebih pada NU. Ini terbukti dan terjadi pada masa-masa organisasi NU itu didirikan.

Selain menjadi pejuang dan ikut andil dalam berdirinya organisasi sosial keagamaan ini, Mbah Ma’sum termasuk pecinta jam’iyah NU. Bahkan, saking cintanya kepada NU, ia pernah menyatakan bahwa dirinya tidak rida jika anak keturunannya tidak NU. Ini menunjukkan ke-NU-an Mbah Ma’shum tidak di ragukan lagi.

Dia juga pernah mengatakan, siapa yang pernah memperjuangkan dan mengabdi pada NU, insya Allah akan mendapatkan berkah dari Allah. Dari pernyataan ini, bisa diambil kesimpulan bahwa akidah yang dianut NU adalah konsep teologi yang penting dan layak untuk diikuti dari sekian varian akidah atau teologi Islam yang ada di Indonesia.

Mbah Ma’shum adalah salah seorang yang tidak setengah-setengah dalam memperjuangkan dan mengabdi dalam NU. Di dalam catatan sejarah NU, khususnya sejarah relasi NU, politik dan kekuasaan, seperti yang banyak ditulis oleh para sejarahwan NU baik di dalam maupun di luar negeri peran dan perjuangannya dalam NU tak pernah terlihat dan tidak ada yang menulisnya.

Bahkan, dalam struktural NU-pun, Mbah Ma’shum jarang sekali terlibat aktif dan kurang dikenal pada tingkatan nasional. Namun, meski tidak pernah dan jarang masuk di struktural manapun, peran Mbah Ma’shum tidak kalah pentingnya dengan tokoh-tokoh NU lainnya.

Memperjuangkan dan mengabdi pada NU, ternyata mempunyai manfaat tersendiri. KH. Ridwan Abdullah, penemu lambang NU mengatakan, jangan takut tidak makan kalau berjuang mengurus NU. Yakinlah kalau sampai tidak makan, komplainlah aku, jika aku masih hidup. Tapi kalau aku sudah mati, maka tagihlah ke batu nisanku. Dari wasiat KH. Ridwan di atas, ternyata menyimpan makna filosofis yang tinggi. Ini terbukti bahwa NU telah banyak memberikan sumbangsih pada agama dan bangsa, khususnya kepada para tokoh-tokohnya.

Selain banyak berkiprah dan mengabdi pada NU, Mbah Ma’shum termasuk ahli silaturrahim dengan siapapun. Acara silaturrahim ini, dilakukan pada bulan Maulud, setelah acara Mauludan dilaksanakan. Sehingga pada bulan tersebut, Mbah Ma’shum meliburkan pengajian yang khusus selama satu bulan. Dan ia meluangkan waktunya untuk berkunjung ke berbagai pihak, baik saudara, teman atau bahkan ke antar-sesama. Adapun yang menarik bentuk jalinan silaturrahmi Mbah Ma’shum, tidak hanya diperuntukkan kepada orang-orang Islam saja, melainkan juga kepada kalangan non-Muslim (Hal. 181).

Buku ini sangatlah menarik untuk dijadikan bahan bacaan bagi banyak pihak, khususnya oleh warga NU dan tokoh-tokohnya. Sebab, selain berisi uraian biografi lengkap Mbah Ma’shum, buku ini juga dilengkapi dengan foto-foto galeri keluarga besar Mbah Ma’shum. Selain itu, buku ini menyuguhkan dan memaparkan dengan bahasa yang sistematis, komonikatif, lugas dan mudah dipahami.

Dari buku ini, setidaknya dapat menjadi langkah awal sajauhmana bisa kita mengenal sosok dan latar belakang Mbah Ma’sum. Dengan harapan, agar muncul para penulis dan peneliti yang bisa menulis biografi para tokoh-tokoh NU lainnya, terutama tokoh pesantren. Karena, selama ini buku-buku yang membahas tokoh-tokoh pesantren relatif terbatas.


*Peresensi adalah pecinta buku, alumnus Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, Madura, Mahasiswa Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel, Surabaya.

Silahkan Tinggalkan Balasan (Komentar tidak akan muncul sebelum ada moderasi dari admin)