VIVA.co.id – Legenda Pompeii zaman Romawi yang hilang telah lama dikenal dunia. Pompeii adalah sebuah kota zaman Romawi kuno yang telah menjadi puing dekat kota Napoli dan sekarang berada di wilayah Campania Italia. Pompeii hancur oleh letusan gunung Vesuvius pada 79 M.

Debu letusan gunung Vesuvius menimbun kota Pompeii dengan segala isinya sedalam beberapa kaki menyebabkan kota ini hilang selama 1.600 tahun sebelum ditemukan kembali dengan tidak sengaja.

Ternyata di Lasem, Kabupaten Rembang, kota di pesisir Pulau Jawa yang terletak di kaki Gunung Lasem terdapat juga legenda kota yang hilang bernama Pucangsulo. Kota itu lenyap ditelan gunung meletus.

Gunung Lasem atau disebut pegunungan Ngargapura merupakan pegunungan yang terdapat di bagian tengah Kabupaten Rembang, membujur mulai dari pegunungan Kapur Utara di bagian selatan hingga ke pesisir pantai utara di sebelah utara.

Gunung dengan ketinggian 806 meter dpl ini sebagian besar berada di wilayah Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Di bawah gunung meliputi beberapa kecamatan seperti Sluke, Kragan, Sedan, Pamotan, dan Pancur.

Di kaki Gunung Lasem yang terletak di pinggir laut Lasem banyak menyimpan jejak peradaban masa lampau. Rekam jejak peninggalan bersejarah itu tercatat di Kitab Badrasanti, Carita Sejarah Lasem.

Kota ini lenyap ketika terjadi gunung meletus dan gempa bumi, hancur ke laut. Diduga sekarang berada di Desa Sulo dan Desa Gepura. Juga di sekitar Desa Logading.

“Warga sekitar pernah menemukan arca dan batu bata merah di areal persawahan. Arca tadi dibuat fondasi masjid, kepalanya telah terpotong. Selain itu, warga pernah menemukan batu bata merah yang berserakan di sekitar Desa Sulo,” kata Jiman warga Desa Sulo ketika ditemui di rumahnya.

Penggiat Sejarah Lasem , Koh Lam, menceritakan, pada tahun Masehi 471, Gunung Maura (Murya) meletus, pegunungan di selatan-timur pecah menjadi Gunung Pati Ayam, Kabupaten Pati.

Bibir kawah yang jebol bergerak ke selatan menutup selat Maura, lalu menjadi pedalaman, Pati, Juana, tersisa rawa-rawa besar yang luas di Undhakan dan Sungai Silugangga.

Lava gunung yang meletus terbang ke timur membuat laut bergolak hingga mengakibatkan tsunami menghantam lereng Pegunungan Ngargapuro lalu ke selatan sampai wilayah Kaye, Pati.

Hantaman ombak menyeret lereng gunung-sehingga longsor menutup Teluk Kendheng, sehingga menjadi daratan, sekarang dikenal dengan wilayah Kayen, Jakenan, Kaliori, Rembang, Sulang, Lasem, dan Pamotan.

Longsoran lereng Gunung Ngargapura sebelah selatan mendorong lipatan bumi di Lasem. Tanahnya membuat tegal dan persawahan Pucangsula terpendam. Sekarang menjadi desa Ngendhen, Lagadhing, Sendangsari, Topar, Klindon, dan Warugunung, wilayah sekitar kota Lasem.

Di dalam Carita Sejarah Lasem diceritakan secara detail tentang kondisi kota Pucangsulo.
Dikisahkan, pada tahun Masehi 390, Dhatu Hang Sam Bandra membuat pelabuhan dan galangan-kapal (dhak-palwa) di Sunglon Bugel atau Gunung Bugel (Bekasnya sekarang menjadi ladang dan kali disebut Palwadhak, selatan Desa Tulis, Kecamatan Lasem).

Perahu-kapal itu sebagai penghubung pemerintahan Pucangsulo dengan Banjar-banjar wilayahnya seurutan pesisir Jawa (Pantura), mulai banjar Losari teluk Tanjung (Kabupaten Brebes), ke timur hingga banjar Rabwan (Kabupaten Batang), dan banjar Tugu (Kabupaten Semarang).

Kemudian, banjar Purwata dan banjar Tanjungmaja (Kabupaten Kudus), tepian Pulau Maura sebelah timur yaitu banjar Tayu dan banjar Blengoh (Kecamatan Kelet, Kabupaten Jepara).

Pelabuhan Pucangsulo di sebelah di timur galangan kapal dibuatkan gapura menghadap ke barat arah laut-teluk Kendheng, sekarang menjadi Desa Gepura. Dari gapura, di sana dibuatkan jalanan sepanjang lereng Pegunungan Argasoka atau Gunung Lasem hingga pusat kota Pucangsulo.

“Kemungkinan kota Pucangsulo terletak di antara Desa Gepuro dan Desa Sulo. Nama Desa Sulo mengingatkan pada nama kota Pucangsulo,” ujarnya.(Viva/ Senin, 13 April 2015 | 08:27 WIB/Dody)

Silahkan Tinggalkan Balasan (Komentar tidak akan muncul sebelum ada moderasi dari admin)