Medan gerilya perang Pangeran Diponegoro 1825-1830 ternyata sampai ke wilayah Rembang-Lasem.   Pasukan Diponegoro di daerah Rembang di bawah pimpinan Tumenggung Sasradilaga, yang semula berhasil memukul mundur pasukan Belanda, lambat-laun mulai terjepit dan akhirnya pada tanggal 3 oktober 1828 menyerah  kepada Belanda.

 

Tentang Lasem dituliskan P. Diponegoro dalam Serat Babad Diponegoro Maskumambang XXXIII, ”China ing Lasem sedaya, mapan sampun sumeja manjing agami, Den Sasradilaga dadya supe weling aji anjamahi Nyonyah China pan punika ingkang dadi marganeki apes juritira” (Carey: 2008).

 

Di buku Carita Sejarah Lasem  ditulis tentang makam R. Panji Kamboro, prajurit Pr. Diponagoro (Kuburan ds. Criwik. Pancur / Lasem).

Tak cuma makam, di Lasem masih dijumpai keturunan prajurit Diponegoro yang tinggal di desa Sumber Girang bernama Achlis Budiman.  Ia mengetahui kisah  kakek Karjono, leluhurnya itu dari cerita turun temurun keluarganya. Jika diurut silsilah kakek Karjono dengan dirinya 6-7 turunan ke bawah.

“Dari cerita keluarga, kakek Karjono datang naik kuda dari arah selatan ke arah desa Sumber Girang sekarang. Dulu daerah sini kemungkinan masih semak belukar,”katanya ketika ditemui LKCB di masjid Lasem, Lasem, pekan lalu.

Ia semakin yakin kakeknya pengikut P.Diponegoro ketika mengetahui bahwa prajurit Diponegoro mempunyai sandi dalam berkomunikasi dengan sesama simpatisan dengan menanam pohon sawo, tanaman kemuning, pohon kepel dan membuat sumur di kanan rumah.

“Saat membaca di WA grup LKCB saya ingat , bekas rumah kakek saya itu ada pohon sawo di depan rumah 2 buah dan sumur di sebelah kanan rumah. Pohon Kemuning dan Kepel mungkin sudah ditebang,”paparnya.

Ditambahkannya, “Menurut cerita  turun temurun, kalo situasi politik memanas, orang pertama yang ditangkap ya simbah Kiai Karjono. Cerita tentang Simbah Kyai Karjono terputus, karena yang berkaitan dengan keberadaannya telah hilang atau dihilangkan, termasuk bekas rumah induk, yang tinggal hanya pohon sawo tua dan sumur tua,”ungkapnya.

Ia menceritakan kakeknya dulu mempunyai tanah yang luas , kemungkinan diberi warga  karena tanah disitu dianggap angker. “Menurut infonya luas tanah mulai rondan gandeng ke selatan , Sampson  sampai SD  3 ke Barat sampai perempatan jamu Jago,”ungkapnya.

 

“Saya menduga tanah itu dirampas oleh Belanda lalu dibagikan ke warga lain. Kisahnya kakek pernah  ditangkap kompeni karena situasi politik Di Lasem memanas dan dipenjara di  Rembang,  tapi pada waktu bersamaan ia  juga mengimami Shalat,”bebernya.

 

“Perlu diketahui situasi Lasem pada saat itu masih ada pergerakan anti kolonial ,”imbuhnya.

sumur di kanan rumah

Penanda Pohon Sawo

Soal pohon Sawo ini  pernah dijelaskan oleh Milal Bizawie, penulis buku ‘Masterpiece Islam Nusantara’  bahwa para pengikut Diponegoro itu menyebar ke berbagai penjuru karena dikejar-kejar pasukan kompeni.

Metode perjuangan mereka akhirnya berubah. Para pengikut Diponegoro tersebut berjuang di wilayah pendidikan, yakni mendirikan surau, pesantren untuk mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat sekitar.

 

Sebagai penanda bahwa mereka ada bekas pasukan Diponegoro, maka di depan surau atau pesantren itu ditanami dua pohon sawo.

 

Demikian dilontarkan Zainul dalam bedah buku yang digelar PC ISNU (Pengurus Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama) Jombang di Aula STKIP PGRI Jombang,  beberapa waktu yang lalu.

 

“Pohon sawo yang ditanam pengikut Diponegoro adalah filosofi dari kalimat ‘sawwu shufufakum’ yang artinya rapatkan barisanmu. Kalimat itu mengacu pada salah satu hadist Rasulullah. Termasuk di Jawa Timur, banyak pesantren yang didirikan oleh pengikut Pangeran Diponegoro,” ujar Gus Milal, sapaan akrab Zainul Milal Bazawie.

Pangeran Diponegoro waktu muda (Lukisan H.M Lange tahun 1847)

Dia mengungkapkan, pengikut Diponegoro terdiri dari berbagai kalangan. Termasuk para ulama dan kiai. Rinciannya, 108 kiai, 31 haji, 15 syekh, 12 penghulu, serta 4 kiai guru.

 

Setelah pimpinan mereka ditangkap Belanda, para pengikut itu menyebar dan mendirikan basis-basis perlawanan. Yakni mendirikan surau dan pesantren. Lagi-lagi, sebelum menyebar, mereka terlebih dahulu bersepakat bahwa menandai tempat baru mereka dengan dua batang pohon sawo.

 

 

Sementara itu Gus Sidiq, ulama dri Lasem mengungkapkan bahwa   pesantren Al Fahriyah, dan  Pesantren Al Wahdah , Sumbergirang Lasem dan Langgar Tengah Ngemplak Lasem juga ada penanda dua pohon sawo. “Untuk yang Langgar tengah sekarang tinggal satu pohon,”ucapnya di masjid Lasem.

 

Satu diantara keturunan ke 7 Pangeran Diponegoro  , Roni Sodewo  di Kulon Progo, Yogyakarta  pernah menjelaskan bahwa ciri ciri sandi trah Diponegoro dan pengikut Diponegoro untuk komunikasi  di rumahnya ditanam pohon Kemuning, atau pohon  Sawo di depan rumah , membuat sumur di sebelah kanan rumah dan di belakang rumah menanam pohon Kepel.(rakyan dohan)

 

2 KOMENTAR

Silahkan Tinggalkan Balasan (Komentar tidak akan muncul sebelum ada moderasi dari admin)