Lasem suatu wilayah yang tercatat dalam goresan puja sastra kitab Nagarakretagama karya pujangga besar Empu Prapanca yang hidup sejaman dengan Raja Hayam Wuruk1. Dimana pada saat itu Lasem merupakan sebuah kerajaan bagian dari wilayah kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Bhre Lasem bernama Sri Rajasaduhitendudewi 2.

Bahkan sangat indah terpahat dalam goresan puja sastra Nagarakretagama Baginda Raja Hayam Wuruk “ring sakangga nagaryyama sira mare lasemahawani tiraning pasir (artinya tahun Saka Anggananagaryyama-1276-(1354 Masehi) Baginda Raja pergi ke Lasem melintasi samudera)3” dalam Pupuh 17 angka 6 baris ke-24.
Ketika Baginda Raja Hayam Wuruk mangkat/wafat di tahun saka 1311 atau 1389 Masehi5. Puncak kejayaan kerajaan Majapahit berlahan tapi pasti mulai redup dan pudar. Banyak wilayah atau daerah satu demi satu baik di luar Jawa maupun Jawa yang berani melepaskan diri dari kekuasaan pemerintah kerajaan Majapahit.

Hal ini causalitas dari konflik internal keluarga kerajaan yang berkepanjangan dalam perebutkan pucuk kekuasaan. Gonjang-ganjing suksesi selalu dibayangi perebutan kekuasaan tercatat mulai dari perang “Paregreg” (tahun 1404 – 1406 Masehi)6 hingga sampai akhirnya di tahun 1478 Masehi Majapahit ditaklukan oleh tentara pasukan penembahan Jimbun alias Raden Patah dari kerajaan Demak7.

Sebelum penembahan Jimbun menaklukan Majapahit di tahun 1478 Masehi atau 80 tahun sejak mangkatnya Baginda Hayam Wuruk atau periode Raja Singawardhana ( 1468-

*) Tulisan ini dipersembahkan pada saat serah terima jabatan Kepala Desa Bonang pada tanggal 25 Desember 2017, bertempat di Balai Desa Bonang. 1 Pupuh V angka 1 dalam Prof. DR. Slametmulyana, Nagarakretagama dan tafsir sejarahnya, Bharata, Jakarta, 1979, hal. 275. 2 Hasan Djafar, Masa Akhir Majapahit Girindrawarddhana dan Masalahnya, Komunitas Bambu, 2009, hal. 168. Kata “Bhre/bhra” sama dengan sebutan cri, artinya: sinar, lihat Prof. DR. Slametmulyana, Runtuhnja Keradjaan Hindu-Djawa dan Timbulnja Negara2 Islam di Nusantara, Bhatara, Jakarta, 1968, hal. 16. 3 Prof. DR. Drs. I Ketut Riana, S.U., Kakawin Desa Warnnana uthawi NagaraKrtagama, Kompas, Jakarta, 2009, hal. 147. 4 Drs. Slametmuljana, Prapantja Nagarakretagama, Bhatara, Jakarta, hal. 19. 5 Prof. DR. Slametmulyana, Runtuhnja Keradjaan Hindu-Djawa dan Timbulnja Negara2 Islam di Nusantara, Bhatara, Jakarta, 1968, hal. 17. 6 Ibid, hal. 34. 7 Ibid, 41 dan bandingkan Hasan Djafar, op.cit., hal. 115.2 1474 Masehi8)

Pada tahun 1469 Masehi Pr. Wirabajra yang menjadi adipati Lasem, memindahkan kadipaten Lasem ke Bonang-Binangun9. Tercatat dalam Carita Lasem, saat itu sudah banyak masyarakat Bonang-Binangun yang beragama Islam (istilah agama Rosul). “Ing nalika Pr. Wirabraja mbangun lan jumeneng ing Kadipaten Binangun kuwi, wong-wong kang padha nyambut gawe dagang layar maring Tuban, gresik lan Ngampel, wes padha ngrasuk agama Rasul, wis padha ninggalake agama Syiwa lan Buddha. Sebab agama Rasul luwih gampang, tur sarat-sarate luwih irit luwih entheng; ora kakean upacara-upacara lan sesajen sing nekawarna nganti ngenthekake ragat akeh. Mulane wong-wong ing tanah pesisir lor banjur padha lilo lan eklas ninggalake agama Syiwa lan Buddha”

Artinya:
“Ketika Prabu Wirabraja memerintah di Kadipaten Binangun, banyak orang yang pekerjaannya dagang layar (nelayan) dari Tuban, Gresik, dan Ampel yang sudah memeluk agama Islam. Mereka meninggalkan agama Hindu dan Budha. Hal ini disebabkan agama Islam lebih mudah diamalkan. Syarat-syaratnya lebih sedikit dan mudah, tidak banyak upacara dan sesajen yang menghabiskan banyak biaya. Oleh sebab itu, orang pesisir pantai Utara dengan ikhlas meninggalkan agama Hindu dan Budha, lebih memilih menganut ajaran Islam”10.

Sejak Pr. Wirabraja wafat lalu yang jumeneng jadi adipati putranya yang bernama Pangeran Wiranagara; dimana sejak kecil sudah belajar agama Islam di Ampel. Pangeran Wiranagara sendiri diangkat mantu oleh Maulana Rokhmat Sunan Ampel yang dinikahkan dengan putri sulungnya yang bernama Putri Malokhah. Hanya lima tahun Pangeran Wiranagara jumeneng adipati Binangun dan wafat di tahun saka 1401 (=1479 Masehi)11.

Satu tahun sebelum wafatnya Pr. Wiranagara, di tahun 1478 Masehi dimana waktu itu yang menjadi raja di Majapahit ialah Kertabhumi (1474 – 1478)12 yang ditaklukan penembahan Jimbun Raden Patah. Keruntuhan Majapahit ini disimpulkan dalam candra sengkala “sirna-ilan-kertanin-bhumi”

13.8 Ibid, hal. 42. 9 R. Panji Kamzah, Carita (Sejarah) Lasem, hal. 12. 10 Amirul Ulum, Sunan Bonang Dari Rembang untuk Nusantara Biografi, Pemikiran, dan Jejaring Isnad, Global Press, Yogyakarta, 2017, hal. 136. Bandingkan juga M. Akrom Unjiya, Lasem Negeri Dampoawang, Edisi Revisi, Salma Idea, Yogyakarta, 2014, hal. 113. 11 R. Panji Kamzah, op. cit., hal. 13. 12 Slametmuljana, op.cit, hal. 44. 13 Hasan Djafar, op.cit., hal. 115.3

Semeninggalnya Pangeran Wiranagara roda pemerintahan dijalankan Putri Malokhah bertempat di kadipaten Bonang-Binangun. Waktu Putri Malokhah jumeneng menjadi adipati yang menggantikan kedudukan sang suami Pr Wiranagara karena meninggal; Putri Malokhah masih berusia 28 tahun dan sudah memiliki dua anak; anak yang pertama putri bernama Solikhah (yang kelak menjadi isteri penembahan Jimbun Raden Patah), sebaliknya anak yang kedua atau putra ragil sudah meninggal saat berusia setahun ketika sang ayah Pr. Wiranagara masih hidup. Baru menginjak tahun saka 1402 (=1480 Masehi) Putri Malokhah memindahkan kadipaten ke daerah Colegawan (sekarang masuk wilayah desa Soditan-pen) yang berhadapan dengan griya kepangeranan Kriyan (sekarangan masuk wilayah desa Sumbergirang-pen)14.

Bekas griya kadipaten Bonang-Binangun selanjutnya ditempati adik Putri Malokhah yang bernama Makdum Ibrohim, masih jaka/lajang kelahiran tahun saka 1376 (=1454 Masehi), sudah menjadi kyai guru agama Islam dan Muadzin. Menginjak usia 30 tahun atau (tahun 1484 Masehi-pen) diwisuda oleh Sunan Ampel, dijadikan Wali Negara Tuban yang bertugas menangani bab-bab agama Islam, diberikan gelar “Sunan Jumeneng ing Bumi Bonang Lasem”15. Deskriptif singkat periode Kadipaten Bonang-Binangun (1469 – 1480 Masehi) sangat pendek hanya durasi waktu 11 tahun dus dua adipati yakni Pr. Wirabajra dan Pr. Wiranagara.

Namun meskipun durasi pendek meletakan goresan sejarah yang tidak pendek. Terungkap dengan terang agama Islam sudah ada sejak tahun 1469 Masehi di Bonang-Binangun, berarti sudah 548 tahun agama Islam di Bonang-Binangun. Goresan nan penting yakni satu tahun sebelum Pr. Wiranagara wafat sejaman dengan peristiwa penaklukan Majapahit (Kertabhumi; 1474-1478 Masehi) yang dilakukan penembahan Jimbun di tahun 1478 Masehi.

Untaian penting berikutnya, kedatangan Makdum Ibrohim tahun 1480 Masehi di Bonang merupakan keinginan daripada Putri Malokhah yang masih saudara dan menempati griya bekas kadipaten Bonang-Binangun.

Daftar Pustaka : Amirul Ulum, Sunan Bonang Dari Rembang untuk Nusantara Biografi, Pemikiran, dan Jejaring Isnad, Global Press, Yogyakarta, 2017 Hasan Djafar, Masa Akhir Majapahit Girindrawarddhana dan Masalahnya, Komunitas Bambu, 2009. Prof. DR. Drs. I Ketut Riana, S.U., Kakawin Desa Warnnana uthawi NagaraKrtagama, Kompas, Jakarta, 2009. M. Akrom Unjiya, Lasem Negeri Dampoawang, Edisi Revisi, Salma Idea, Yogyakarta, 2014. Prof. DR. Slametmulyana, Runtuhnja Keradjaan Hindu-Djawa dan Timbulnja Negara2 Islam di Nusantara, Bhatara, Jakarta, 1968. Drs. Slametmuljana, Prapantja Nagarakretagama, Bhatara, Jakarta, 1953.
14 R. Panji Kamzah, op.cit., hal. 13. 15 R. Panji Kamzah, loc.cit.
4
Prof. DR. Slametmulyana, Nagarakretagama dan tafsir sejarahnya, Bharata, Jakarta, 1979. R. Panji Kamzah, Carita (Sejarah) Lasem.

Penulis :Pedias

Silahkan Tinggalkan Balasan (Komentar tidak akan muncul sebelum ada moderasi dari admin)