Beberapa waktu lalu,  penggiat sejarah Lasem, Koh Lam menjelajah Alas Kemuning di kawasan desa Bonang. Berikut kisahnya dengan gaya bertutur.

Saya sangat penasaran dengan Alas Kemuning yang kental sekali dengan kaitannya Sunan Bonang.  Akhirnya saya berangkat lewat bukit kecil yang bernama Watu layar.

Di atas saya melihat sebuah dolmen yang masih berdiri sempurna. Tidak jauh dari Dolmen terdapat bangunan pondok pesantren unik yang di bangun di atas bukit jauh dari pemukiman milik Ust. Syaiful Lasem.

 

Lalu perjalanan saya lanjutkan ke atas melihat runtuhan candi Adon ayam, di tempat yang sama merupakan lokasi pembakaran jenazah Bhre Lasem.
 Setelah itu 200 M ke arah timur saya berziarah ke makam Raja Minang Sulthan Mahmud , kemudian perjalanan  menuju alas Kemuning sambil menikmati suasana hutan yang rimbun yang dipenuhi satwa-satwa khas Alas Kemuning .
Saya menuju sebuah situs yang terkenal dengan sebutan Watu Sigar. Lokasi tersebut biasa di pakai orang untuk acara spiritual. Bagi anda yang menyukai dunia mistik anda wajib mengunjungi lokasi yang satu ini.
 Di lokasi yang sama saya bisa terkagum- kagum melihat pemandangan kota Lasem dari atas sungguh dahsyat dapur Alas Kemuning. Masih di area hutan juga terdapat makam tua yang terkenal dengan julukan makam Sayed Bos.
Di makam tersebut masih banyak tinggalan berupa batu bata besar di sekeliling makam. Perjalanan saya  akhiri dengan pemandangan situs yang luar biasa yaitu batu tapak di dukuh Mbebek, sebuah situs tinggalan kuno yang masih sempurna.
Setelah terakhir melihat situs batu tapak perjalanan sudah mendekati perkampungan .
 Ini saatnya saya berburu warung kopi pedesaan dengan gaya khas wanita penjual kopi pedesaan penuh sapa dan keramahan.
Dimanakah warung kopi tersebut? Hanya ada di desa Sendang Asri warung kopi sebagai penutup perjalan jelajah saya.(Koh Lam)

Silahkan Tinggalkan Balasan (Komentar tidak akan muncul sebelum ada moderasi dari admin)