Beberapa waktu lalu, Pedias dari  Lasem Kota Cagar Budaya (LKCB)  berkunjung ke makam Pangeran Diponegoro di Makassar, Sulawesi Selatan. Berikut catatan perjalanannya.

Untuk menuju ke makam P. Diponegoro, dari Museum Fort Rotterdam di kota Makassar Sulawesi Selatan, banyak pilihan yang bisa diambil yakni bisa ke Utara benteng, ada dua jalan.

Pertama, rute jalan Tentara Pelajar dan Jalan Nusantara/Nusantara Baru, dengan jarak 3,3 Km, waktu tempuh 13 menit.

Kedua, rute jalan Nusantara/Nusantara Baru, dengan jarak 3,7 Km, waktu tempuh 14 menit. Lewat Selatan Benteng melalui Jalan Bawakaraeng dengan jarak 3,8 Km waktu tempuh 17 menit.

Ketika sampai di makam P. Diponegoro yang ada di jalan P. Diponegoro Kelurahan Melayu Kecamatan Wajo Kota Makassar, pengunjung akan memasuki pintu gerbang gapura dengan corak khas Jawa, diatas terbentang tulisan “Makam Pahlawan Nasional Pangeran Diponegoro”.

Saat mau memasuki areal komplek makam akan dijumpai bangunan induk rumah yang didalamnya terdapat makam P. Diponegoro berdampingan sama makam Isteri P. Diponegoro (R. Ayu Ratna Ningsih).

Makam P.Diponegoro di Makassar

Selebihnya tidak dijumpai bangunan rumah untuk makam-makam keturunan dari P. Diponegoro dan yang bukan keturunan tertulis “Laskar P. Diponegoro”.

Pada areal makam terdapat 2 (dua) bangunan rumah. Rumah pertama, diperuntukan menerima pengunjung. Sudah pasti setiap pengunjung mengisi daftar tamu makam P. Diponegoro yang sudah disediakan, mulai tanggal, nama, instansi, alamat, kesan-kesan, dan tanda tangan. Rumah kedua, untuk penjaga atau juri kunci makam.

Tidak menyangka betul kalau juri kunci makam masih keturunan langsung dari P. Diponegoro. Hal ini nampak terlihat dari “Pethikan Serat KekancinganDalem” dari Sri Sultan Hamengku Bawono ke-X. Tanggal 28 Januari 2017. Dengan nama “Raden Bekel Suraksodipohamzah”, sebelum diangkat bekel bernama “Raden Hamzah Diponegoro”.

Dari tutur Raden Bekel Suraksodipohamzah yang dituangkan dalam tulisan berjudul “Sejarah Singkat Pangeran Diponegoro di Ujung Pandang (Sulawesi Selatan). P. Diponegoro wafat pada hari Senin waktu Dhuha tanggal 8 Januari 1855 di tahanan Benteng Fort Rotterdam selama 21 tahun.

P. Diponegoro meninggalkan seorang isteri R. Ayu Ratna Ningsih, menurunkan 6 (enam) anak yaitu: 1. BRM. Abdul Rahman. 2. BRM. Abdul Rahim. 3. BRA. Putri Munadinah. 4. BRM. Abdul Gani. 5. BRM. Abdul Rajab, dan 6. BRM. Abdul Gafur.

Serta 3 (tiga) Laskar P. Diponegoro, yaitu. Banteng Wareng, R.M. Suryadi Ningrat, dan R.M. Tumenggung. (Pedias)

 

 

 

Silahkan Tinggalkan Balasan (Komentar tidak akan muncul sebelum ada moderasi dari admin)