Lembah persawahan di bawah gunung Bugel, Pancur. Diduga alur sungai purba sungai Warugunung yang diperkirakan lokasi pelabuhan kuno Kerajaan Pucangsulo abad 5 M. Dulu sungai Warugunung ini diduga bermuara di laut di kaki gunung Bugel.

Dalam Carita Sejarah Lasem dikisahkan bahwa dahulu terdapat kota Pucangsulo yang terletak di sebelah timur Lasem.

Dikisahkan, pada tahun Masehi 390, Dhatu Hang Sam Bandra membuat pelabuhan dan galangan-kapal (dhak-palwa) di Sunglon Bugel atau Gunung Bugel (Bekasnya sekarang menjadi ladang dan kali disebut Palwadhak, selatan Desa Tulis, Kecamatan Lasem).

Perahu-kapal itu sebagai penghubung pemerintahan Pucangsulo dengan Banjar-banjar wilayahnya seurutan pesisir Jawa (Pantura), mulai banjar Losari teluk Tanjung (Kabupaten Brebes), ke timur hingga banjar Rabwan (Kabupaten Batang), dan banjar Tugu (Kabupaten Semarang),

Kemudian, banjar Purwata dan banjar Tanjungmaja (Kabupaten Kudus), tepian Pulau Maura sebelah timur yaitu banjar Tayu dan banjar Blengoh (Kecamatan Kelet, Kabupaten Jepara).

Pelabuhan Pucangsulo di sebelah di timur galangan kapal dibuatkan gapura menghadap ke barat arah laut-teluk Kendheng, sekarang menjadi Desa Gepura.

Dari gapura, di sana dibuatkan jalanan sepanjang lereng Pegunungan Argasoka  atau Gunung Lasem hingga pusat kota Pucangsulo.

Kemungkinan kota Pucangsulo terletak di antara Desa Gepuro dan Desa Sulo. Nama Desa Sulo mengingatkan pada nama kota Pucangsulo.(rakyan)

Silahkan Tinggalkan Balasan (Komentar tidak akan muncul sebelum ada moderasi dari admin)