Dalam sejarah seperti yang ditulis di Carita Sejarah Lasem, bangsawan  Lasem banyak yang menyebar di sekitar Lasem atau di luar daerah. Mereka pindah karena perkawinan atau mengungsi karena pergolakan politik jaman Hindia Belanda. Perlawanan rakyat Lasem terhadap penjajah Hindia Belanda menyebabkan tindakan represif penguasa saat itu.

Kota Lasem menjadi ajang peperangan yang berlarut-larut sejak jaman Mataram , penaklukan Lasem oleh Sultan Agung , perang Lasem era Amangkurat,  sampai jadi daerah gerilya Tumenggung Sasaradilaga yaitu  ipar Pangeran Diponegoro.

Lasem yang selalu bergolak  membuat penjajah Hindia Belanda melakukan tindakan keras dan kejam. Bangsawan Lasem yang tergabung dengan pejuang Lasem dikejar-kejar sehingga tercerai berai. Mereka berangsur-angsur melakukan eksodus keluar dari kota Lasem.

Monumen Perang Lasem di TMII

“ Berdasarkan manuskrip yang kami punya, bangsawan Lasem yang tersisa di abad ke-20 banyak melarikan diri ke Kudus, Semarang, Kendal, Grobogan, Blora, Cepu, Bojonegoro, Madiun, hingga melintas ke Sragen, dan wilayah Pantai Selatan yang lain,”jelas Yudi dari Yayasan Badrasanti dalam keterangan tertulis beberapa waktu yang lalu.

Menurutnya satu diantara bangsawan Lasem yang tersisa adalah Mbah Modin Karsono dan keturunannya. “Itu pun dari garis mbah Kasmah, putrinya. Lalu dari garis Mbah Asngari, dari putrinya juga, Mbah Sulastri Kusumastuti, melarikan diri hingga Madiun,”ucapnya.

Makam Panji Margono, Bangsawan Lasem yang gugur dalam perang Lasem

Ditambahkannya, “ Ada yang bergabung dalam pasukan saat perang Diponegoro, ada yang dieksekusi tragis di pantai Lasem dan  ada yangmenginspirasi perjuangan Mbah Samin Sepuh, dan sebagainya. Ada juga keturunan yang dimakamkan di TMP Giri Tunggal, Semarang dan   Makam Taman Pahlawan lainnya.”

Menurutnya, berdiskusi tentang  Lasem, menarik sekali karena  banyak bangsawan Lasem, justru meninggalkan bumi Lasem dan beranak pinak di wilayah perantauan. “Hanya catatan-catatan  manuskrip, tinggalan-tinggalan artefak,  yang dapat berbicara dari sudut pandang ilmu sejarah,”ucapnya.(rakyan)

Silahkan Tinggalkan Balasan (Komentar tidak akan muncul sebelum ada moderasi dari admin)