Pada jaman Majapahit, era Hayam Wuruk (1350-1389 M), Lasem menjadi wilayah khusus (perdikan) Majapahit yang dipimpin adik sepupu perempuan raja. Ia  bernama Dewi Indu Purnama Wulan atau Bhre Lasem yang diangkat menjadi adipati oleh Prabu Hayam Wuruk pada tahun 1351.

Dewi Indu menurunkan pangeran Badrawardana, Pangeran Badrawardana menurunkan Pangeran Wijayabadra, Pangeran Wijayabadra menurunkan Pangeran Badranala. Tiga keturunan trah Dewi Indu inilah yang kemudian turun-temurun menjadi Adipati di Lasem dan tetap menempati Dalem Kraton Indu di bumi Kriyan.

 

Situs Candi Malad Perabuan Dewi Indu

Pangeran Badranala menikah dengan Putri Campa bernama: Bi Nang Ti, menurunkan dua putra; bernama Pangeran Wirabraja dan Pangeran Santibadra. Setelah meninggalnya Pangeran Badranala, yang kemudian menggantikan sebagai Adipati Lasem adalah Pangeran Wirabraja, putra sulungnya.

Sedang Pangeran Santibadra mempunyai beberapa anak. Pangeran Santipuspa kelahiran tahun Syaka 1373. Waktu berumur 18 tahun mendapat amanat dari Ayahandanya, Pangeran Santibadra, untuk menempati Puri Kriyan menemani ibunya dan membantu merawat adik-adiknya yang berjumlah 9.

 

Sang ayahanda harus pergi ke Majapahit – untuk belajar dan mengabdi pada Agama Syiwa Budha, sebagai amanat terakhir ayahanda Pangeran Santibadra, kakek Pangeran Santipuspa yaitu; Adipati Lasem Pangeran Badranala, sebelum beliau meninggal dunia.

 

Karena hal itulah Pangeran Santipuspa sampai bertekad menjadi perjaka, tidak akan menikah sebelum adik-adiknya yang putri menikah lebih dahulu, dan akhinya Pangeran Santipuspa baru menikah setelah berumur 39 tahun.

 

Adik pertama Pangeran Santipuspa (anak No. 2, Pangeran Santibadra) bernama : Silastuti, kelak akhirnya menikah dengan Adipati dari Matahun, Bojonegoro, Jatim.

 

Adik kedua Pangeran Santipuspa (anak No. 3, Pangeran Santibadra) bernama : Santiwira, kelak akhirnya menjadi Kyai Ageng Bedhog ; cikal bakal desa Bedhog, Kec.Sedan

 

Adik ketiga Pangeran Santipuspa (anak No. 4, Pangeran Santibadra) bernama : Sulantari, kelak akhirnya menikah dengan Tumenggung Pamotan.

 

Adik keempat Pangeran Santipuspa (anak No.5, Pangeran Santibadra) bernama : Sulanjari, kelak akhirnya menikah dengan Kyai Ageng Ngataka ; yang menjadi cikal bakal desa Karangasem dan desaGedhug

 

Adik kelima Pangeran Santipuspa (anak No. 6, Pangeran Santibadra) bernama : Silarukmi, kelak akhirnya menikah dengan Kyai Ageng Dhemang Ngadhem.

 

Adik keenam Pangeran Santipuspa (anak No. 7, Pangeran Santibadra) bernama : Santiyoga, yang mendapat julukan Kyai Ageng Gada, menjadi Bintara Dhang Puhawang membantu kakaknya ; serta menjadi salah satu pimpinan Pathol , mengepalai semua Pathol-pathol Gada sampai Sarang.

Makam P Santipuspa di desa Caruban Lasem

 

Adik ketujuh Pangeran Santipuspa (anak No.8,Pangeran Santibadra) bernama : Santidharma, kelak menjadi Demang di Bakaran, menurunkan para pembesar-pembesar di Juwana dan Jakenan, Pati .

 

Adik kedelapan Pangeran Santipuspa (anak No.9,Pangeran Santibadra) bernama : Silagati, kelak akhirnya menikah dengan Kyai Ageng Sutisna dari Criwik, menurunkan pembesar-pembesar di bumi Argasoka.

 

Adik kesembilan Pangeran Santipuspa (anak No.10,Pangeran Santibadra) bernama : Santikusuma, kelahiran tahun Syaka 1390. Yang baru berumur satu tahun telah ditinggal pergi Ayahandanya, Pangeran Santibadra ke Majapahit sampai 10 tahun lamanya, sewaktu berumur 2 tahun ditinggal ibunda meninggal dunia. Karena itulah Pangeran Santipuspa begitu sangat mengasihi kepada adik-adiknya. Ia merasa menjadi wakil dari orang tua, menjadi kewajibannya untuk membesarkan adik-adiknya.

 

“Trah Dewi Indu ada yang di Bedog Sedan, Pamotan, desa karang Asem dan Gedhug belum tahu daerahnya ? Ngadhem juga belum tahu?  Selain itu ada di desa Nggada, desa Bakaran Juwana –Jakenan dan desa  Criwik,Pancur,”ujar Aclis pemerhati sejarah Lasem beberapa waktu yang lalu.

(javakrisna)

 

 

Silahkan Tinggalkan Balasan (Komentar tidak akan muncul sebelum ada moderasi dari admin)