Minuman air legen bagi masyarakat Lasem-Rembang dan sekitarnya bukan hal yang baru, bahkan legen sendiri sudah terpahat nan indah dalam Cerita Sejarah Lasem.

Ing karang pedesaan katon nggenggeng kitri taun, ana nangka, blimbing, krambil, lan sapanunggalane. Neng saurute gampenge pasetren, pakebonan, pategalan ditanduri wit bogor; ngasilake legen, siwalan lan lontar.”

“Kota Lasem tampak asri dan sejahtera, karena begitu banyaknya pohon buah-buahan yang di tanam sepanjang jalan. Kraton Dalem (Bhre Lasem Dewi Indu-red) bertempat di bumi Kriyan, taman-sari balekambang Kamalaputri berada di sebelah tenggara Kraton; banyak pohon kamal-tropong yang tumbuh lebat.

 Sepanjang kerajaan banyak ditanami pohon sawo kecik, setiap perempatan dan pertigaan jalan ditanam pohon beringin. Setiap halaman rumah tampak pohon kelapa gadhing punyung sepasang, yang buahnya bergelantungan, lebat dan berjejal-jejalan ; tersisipi bunga-bunga beraneka warna ; mawar, melati, gambir, ketongkeng, arumdalu (sedap malam), kemuning dan pacar printhil.

Di sebelah kanan kiri rumah ada pohon sawo manela, mangga golek, jambu lumut dan jambe. Di pekarangan desa berjajar pohon-pohon dengan buah bergelantungan; pohon nangka, blimbing, kelapa dan lain sebagainya. Sepanjang kebon, ladang, ditanami pohon bogor (pohon siwalan); menghasilkan legen (nila pohon siwalan), siwalan dan lontar.

Lontarnya digunakan untuk menulis catatan, cerita ataupun pustaka sabda dan tembang-tembang yang digubah. Legen (nila siwalan) dibuat untuk gula atau badheg. Di antara pohon-pohon bogor/siwalan ini ditanami pohon randu yang dirambati tanamanan suruh yang hijau dan segar, suruh ini dipakai untuk jamu/obat sakit perut.”

Kemarin hari Selasa (16/10/2018) LKCB saat jalan-jalan sore-sore melalui rute Ngadem – Pragu-Seren-Kebonagung-masuk Kebonagung ke arah timur Landoh sepanjang jalan dengan amat mudah dijumpai penjual minuman legen. Khas penjual minuman legen Kebonagung-Landoh, air legennya disimpan dalam bumbung bambu serta gelasnya juga disediakan dari bambu.

Kebetulan Pak Remen sore itu habis turun menderes legen. Ada 5 bumbung legen yang dibawa turun. Melihat hal tersebut menimbulkan minat ingin mencoba sensasi air legen barusan dideres.

Pak Remen baru turun membawa bumbung air legen. (Pedias).

“Coba pak bumbung yang ini”, yang kebetulan isinya Cuma untuk segelas. “Wow”…begitu kata-kata yang keluar….memang sungguh berbeda sekali legen yang baru dideres, rasanya lebih segar tidak begitu manis juga terasa aromah alami yang kental sekali.

Satu gelas bambu isi legen dihargai hanya Rp. 5000,- pembeli  bisa menikmati nikmatnya sensasi legen original yang berasal dari pohon Bogor. Monggo. (Pedias)

 

Silahkan Tinggalkan Balasan (Komentar tidak akan muncul sebelum ada moderasi dari admin)