Raden Panji Margono  adalah penerus dari ayahnya, Adipati Lasem Tedjakusuma V. Namun beliau enggan, rela melepaskan keningratannya dan membaur dengan rakyatnya sebagai petani dan berdagang bersama Tionghoa Lasem.

Kepemimpinan Lasem kemudian diberikan atas persetujuan Keraton Kartasura yang saat itu dipimpin oleh Sunan Amangkurat IV (bertahta 1719-1726) kepada Oei Ing Kiat yang kemudian diberi gelar Adipati Tumenggung Widyadiningrat.

Oei Ing Kiat menjadi Adipati Lasem Tionghoa pertama sekaligus tokoh yang berhubungan dekat dengan Raden Panji Margono seperti layaknya saudara.

Makam Panji margono di desa Dorokandang

Pada kitab Carita Sejarah  Lasem, disebutkan sebuah tempat yang didiami Raden Panji Margono yang penuh dengan tanaman Tal (siwalan) hingga Raden Panji Margono pun dijuluki sebagai Panji Lasem Talbaya.

Warga di sekitar sana banyak yang bekerja sebagai penyadap pohon Tal untuk diambil air niranya, buahnya dijual atau dikonsumsi warga, serta daunnya dipakai untuk bahan menulis (ron-tal/daun Tal, atau lebih sering disebut Lontar).

 

Selain itu  juga sekaligus untuk mengintai pasukan kompeni Belanda dari atas pohon Tal yang tumbuh tinggi, sebagai mata-mata untuk mengetahui bahaya yang ada. Maka, banyak yang menjuluki daerah tersebut dengan nama Talbaya (terdiri dari kata Tal dan be-Baya /bahaya).

 

Pada waktu itu berkecamuknya pemberontakan Cina Ia menjadi salah satu tokohnya di Lasem dengan memakai nama samaran Cina yaitu Tan Pan Ciang alias Tan Mo Tjwan alias Encek Macan, dan bekerjasama dengan tokoh pemberontak Cina yaitu Tan Ke Wi dan Ui Ing Kiat.

Setelah Raden Panji Margono dan Oei Ing Kiat menerima dan menampung kedatangan para pengungsi Tionghoa yang melarikan diri dari Batavia pasca Geger Pecinan tahun 1740, terjadi pergolakan di Pati dan Juwana serta menerima serangan dari kerajaan Madura.

 

Raden Panji Margono bersama Adipati Tumenggung Widyadiningrat atau Oey Ing Kiat dan Tan Kee Wie dibantu para pejuang koalisi Tionghoa-Jawa Lasem yang lain dikisahkan melakukan pemberontakan melawan VOC di Lasem tahun 1750.

Pemberontakan tersebut didukung oleh laskar Tionghoa yang dipimpin Oei Ing Kiat dan laskar santri yang dipimpin Kyai Ali Badawi.

Pertempuran meletus pada bulan Agustus 1750. Pasukan dari Tuban yang dipimpin Tumenggung Citrasoma bertempur dengan pasukan pemberontak Aragosoka yang dipimpin oleh Raden Panji Suryakusuma di Bonang dan Leran. Pasukan VOC dari Jepara yang melewati jalur laut menuju Layur (utara Lasem) dihadang pasukan Lasem dibawah pimpinan Oei Ing Kiat yang dipersenjatai senapan dan meriam hasil rampasan perang.

Di sebelah timur Sungai Paturenan, pasukan Kyai Ali Badawi menghadang pasukan VOC dan Citrasoma. Raden Panji Margono memimpin pertempuran jarak dekat melawan pasukan Belanda di daerah Narukan dan Karangpace (barat Lasem) hingga ke utara di tepi laut. Di tempat ini, Raden Panji Margono gugur terkena sabetan pedang.

Setelah mendengar berita kematian Panji Margono, Oei Ing Kiat menjadi gelap mata. Sambil membawa pedang pusaka Naga Gak Sow Bun, ia nekad maju ke depan medan perang tanpa mempedulikan desing peluru dan ledakan meriam sambil membantai banyak serdadu VOC.

Namun, amarahnya yang tak terkendali membuatnya tidak waspada sehingga dadanya tertembak oleh serdadu bayaran dari Ambon. Oei Ing Kiat mendekap dadanya yang terluka sambil mundur dari medan perang, kemudian ambruk dan meninggalkan pesan kepada orang-orang disekelilingnya:

  1. Supaya jenasahnya dimakamkan di lereng puncak gunung Bugel menghadap ke barat dengan ditandai dayung perahu serta pohon beringin.
  2. Hanya keluarganya yang diperbolehkan untuk mengetahui makamnya.
  3. Jenasahnya dibawa ke Warugunung, di rumah istri mudanya yang beretnis Jawa, untuk dibersihkan dan dimakamkan.

Tan Kee Wie akhirnya gugur di selat Mandalika pada tahun 1742.

Raden Panji Margono bersama abdinya yang setia bernama Ki Mursodo dan Nyai Karminah dimakamkan di Desa Dorokandang.

Meskipun kalah dalam perang melawan Belanda, kisah heroik ketiganya dimonumenkan dalam bentuk Kelenteng Gie Yong Bio yang dibangun oleh warga Tionghoa Lasem pada tahun 1780.

Boneka Panji Margono di kelenteng Gie Yong Bio Bagan

Pada saat menjelang wafat, Panji Margono berpesan agar istri dan anaknya yang masih bayi (Raden Panji Witono) diungsikan ke Dukuh Narukan, Desa Dorokandang.

Masyarakat Lasem pada masa itu sangat berduka karena gugurnya Raden Panji Margono. Penduduk Tionghoa di Lasem menghormatinya dan membuat patungnya (kimsin) untuk diletakkan di atas altar pada kelenteng Gie Yong Bio di Lasem.

Dari buku Menggali Warisan Sejarah Kab. Rembang diceritakan karena adanya ancaman pembunuhan oleh para sisa-sisa pemberontak terhadap Suro Adimenggolo III, maka pada tahun 1750 Suro Adimenggolo III memindahkan rumah dan pemerintahan kabupaten Lasem ke Rembang yaitu di Magersari.

Dari dua sumber tersebut diatas, lokal dan kolonial terdapat perbedaan nama bupati Lasem pada saat yang bersamaan. Apabila sumber kolonial menyebutkan Bupati Sumanegara, maka sumber lokal menyebutkan nama Suro Adimenggolo III yang pada tahun 1751 digantikan oleh Tumenggung Citrasoma.

 

Mungkinkah Suro Adimenggolo adalah gelar yang dipakai oleh Sumanegara? Sesudah tahun 1751 atau sesudah Tumenggung Citrasoma tidak diperoleh informasi mengenai jabatan Bupati Rembang . Ada kemungkinan jabatan Bupati Rembang dihapuskan atau dijadikan satu dengan Kabupaten Lasem.

ziarah di makam Panji Margono

Dari sumber lokal yaitu CSL -Sabda Badra-Santi diperoleh informasi bahwa bupati Lasem yaitu Surodimenggolo III di kembalikan ke Semarang karena dianggap tidak mampu menjaga ketertiban dan keamanan, pada waktu itu terjadi kekacauan atau perusuhan yang dilakukan oleh sisa-sisa pemberontakan Cina. Sebagai penggantinya maka diangkat Tumenggung Citrosoma menjadi Bupati Lasem pada tahun 1751.
(bbs/rakyan)

 

 

2 KOMENTAR

Silahkan Tinggalkan Balasan (Komentar tidak akan muncul sebelum ada moderasi dari admin)