Dalam Carita Sejarah Lasem (CSL)  diceritakan bahwa Ratu Lasem Bhre Lasem Dewi Indu menurunkan pangeran Badrawardana, Pangeran Badrawardana menurunkan Pangeran Wijayabadra, Pangeran Wijayabadra menurunkan Pangeran Badranala. Tiga keturunan trah Dewi Indu inilah yang kemudian turun-temurun menjadi Adipati di Lasem dan tetap menempati Dalem Kraton Indu di bumi Kriyan.

Pangeran Badranala menikah dengan Putri Campa bernama: Bi Nang Ti, menurunkan dua putra; bernama Pangeran Wirabraja dan Pangeran Santibadra. Setelah meninggalnya Pangeran Badranala, yang kemudian menggantikan sebagai Adipati Lasem adalah Pangeran Wirabraja, putra sulungnya.

Selama Pangeran Wirabraja menjadi bupati, belau tidak bertempat di Puri Kriyan Lasem, tetapi pindah dan bertempat tinggal di bumi Bonang Binangun, pada tahun Syaka 1391; berdekatan dengan tempat kubur Rama (ayah) Ibunya di punthuk/bukit Regol. Sedangkan Puri Kriyan ditempati oleh Pangeran Santibadra beserta anak istri dan keturunan-keturunannya.

Pada waktu Pangeran Wirabraja berpindah dan menetap di Kadipaten Binangun itulah, orang-orang yang berdagang dengan berlayar sepanjang Tuban, Gresik, dan Ngampel sebagian telah memeluk agama Rasul (Islam); meninggalkan agama Syiwa dan Buddha.

Karena agama Rasul lebih mudah, syarat-syaratnya juga lebih hemat dan ringan; tidak terlalu banyak upacara-upacara dan sesaji beraneka macam yang hanya menghabiskan harta denda. Karena itu, orang-orang di sepanjang tanah pesisir utara lantas dengan rela dan ikhlas meninggalkan agama Syiwa dan Buddha.

Pangeran Wirabraja menurunkan Pangeran Wiranagara; yang sejak kecil sudah belajar mengaji agama Rasul di Ngampelgadhing. Di kemudian hari Pangeran Wiranagara diambil mantu oleh Maulana Rokhmat Shunan Ngampelgadhing, dijodohkan dengan putri sulungnya yang bernama Malokhah ato lebih dikenal dengan nama Nyi Ageng Malokhah.

Pangeran Wiranagara kemudian menggantikan ayahandanya menjadi Adipati di Binangun, memerintah menjadi Adipati selama 5 tahun tetapi kemudian meninggal dunia pada tahun Syaka 1401 ; pemerintahan kemudian dilanjutkan oleh istrinya, Putri Malokhah, janda muda yang baru berumur 28 tahun yang pada waktu itu telah berputra dua ; yang sulung bernama Solikhah, dan yang bungsu baru umur setahun telah meninggal, yang pada saat itu suaminya masih hidup.

Tahun Syaka 1402 dalem Kadipaten Binangun kemudian dipindah lagi ke Lasem oleh putri Malokhah, menetap di bumi Colegawan, berhadap-hadapan dengan dalem Kapangeran Puri Kriyan; yang pada waktu itu ditempati pangeran Santipuspa, Putra sulung Pangeran Santibadra, yang saat itu menjabat sebagai Dhang Puhawang atau Raja/penguasa Lautan di pelabuhan Kaeringan.

Dalem Kadipaten Putri Malokhah menghadap selatan, di sebelah utara delanggung (jalan) besar, banyak pohon sowo kecik dan kembang kanthil. Sedangkan bekas Kadipaten Bonang ditempati oleh adik Putri Malokhah yang bernama Makdum Ibrahim, yang masih perjaka kelahiran tahun Syaka 1376 ; dan menjadi Kyai (ulama) guru agama Rasul dan menjadi Muadzin.

Ketika telah berumur 30 tahun akhirnya diwisudha oleh Shunan Agung Ngampel, dijadikan Wali Negara Tuban yang mengurusi segala urusan agama ke-Rasulan, dan mendapatkan drajat/pangkat sebagai Shunan bertempat di Bonang Lasem, menapak tilas rumah kakak perempuannya, Putri Malokhah.

Tugas utama sebagai Makdum Ibrahim sebagai amanat dari kakak perempuannya, Putri Malokhah, untuk menempati bekas Kadipaten Bonang adalah untuk ikut merawat dan menjaga kuburan Putri Campa Bi Nang Ti sekeluarga yang berada di Puthuk Regol ; serta kuburan Pangeran Wirabraja dan Pangeran Wiranagara yang di kebumikan di bumi Keben.

Sunan Bonang begitu taat dan berbakti merawat kuburan Eyang Putri Campa ; Batu Gilang yang ada di sekitar makam dipangkas dan diratakan, dijadikan tempat untuk sujud dan bertafakkur. Berbakti untuk terus merawat Eyang Putri Cempa Bi Nang Ti.

Dalem Kadipaten yang dipindah di Lasem tepatnya di bumi Colegawan oleh Putri Malokhah sebenarnya karena agar ia dapat lebih dekat dengan Pangeran Santipuspa, karena sang Pangeran dijadikan benteng dan pengayoman, serta menjadi penasehat bagi Sri Adipati Putri Malokhah.

Para abdi dalem se-Kadipaten Lasem begitu menaruh sungkan, hormat dan begitu mencintai Pangeran Santipuspa, terlebih-lebih para abdi Pambelah di sepanjang Pesisir, sejak dari Menco Dhemeg (Demak) sampai ujung Brondong Sedayu; yang begitu takut dan begitu berbaktinya kepada Pangeran Santipuspa, salah satu Dhang Puhawang (penguasa/panglima laut) yang dianggap telah dikasihi olehSang Hyang Waruna.

Yang ke Kedua, Pangeran Santipuspa adalah adik ipar (besan) Putri Malokhah, yang bisa menghibur kesusahan dan kepedihan Putri Malokhah setelah ditinggal mati suami dan putra bungsunya yang baru berumur satu tahun, sewaktu masih menetap di Kadipaten Bonang Binangun. Juga atas kepergian Putri pertamanya, Sholikhah, yang diboyong oleh suaminya, yaitu Arya Jin Bun ; Bintara Dhang Puhawang di Dhemeg (Demak).

Karena itu, untuk menghibur hati dan pikirannya, Putri Malokhah membuat membuat rumah dan taman di tepi pesisir Kaeringan, berdekatan dengan Candhi Samodrawela, candhi pemujaan para Pambelah yang memuja Sang Hyang Waruna ; taman tersebut dinamakan “Taman SITARESMI”.Setelah jaman berubah dan penuh carut marut dan kehancura, nama itu lantas diganti oleh manusia-manusia yang adigung cumanthaka (lancang dan menyombongkan kekuasaannya) , di ganti dengan nama : “Taman Caruban”.

Di dalam usahanya untuk menghibur dan menentramkan diri itulah, putri Malokhah ditemani oleh Pangeran Santipuspa ; yang mana keduanya saat itu menginjak umur 32 tahun. Wajah putri Malokhah seperti Dewi Banowati, sedangkan Pangeran Santipuspa seperti Raden Premadi. Setelah Makdum Ibrahim diwisudha menjadi Wali Negara dengan sebutan Shunan Bonang, beliau semakin kencang sekali mengajarkan dan menyebar-luaskan agama Rasul Islam di tanah Lasem sampai Tuban.

Berkebalikan dengan kakak perempuannya, Putri Malokhah, setelah pindah di Puri Kadipaten Lasem, karena begitu seringnya berkumpul dan bertukar pikiran dengan adik ipar-nya, Pangeran Santipuspa, putri janda cantik Malokhah lantas berubah, tersilap oleh Ilmu dan Ajaran Pangeran Santipuspa ; Putri Malokhah menjadi semakin kendur bersembahyang sholat lima waktu, serta tidak berpuasa di bulan Ramadhan.

Shunan Bonang Makdum Ibrahim jadi sangat tercengang setelah mengetahui kakak perempuan yang begitu dihormatinya telah berubah begitu jauh dari Agama. Karena itulah amanat dari kakak perempuanya, Putri Malokhah, lantas tidak lagi diindahkan ; Shunan jadi begitu sering meninggalkan dan tidak lagi merawat Pundhen Regol dan Keben, berpindah di Tuban dan tidak mau pulang sampai berbulan-bulan.

Putri Malokhah menjadi janda sampai meninggal pada umur 39 tahun ; membawa pemerintahan Lasem tanpa ada satupun bencana dan huru-hara, karena kebijaksanaan dan wibawa Pangeran Santipuspa yang membantu Putri Malokhah memerintah Kadipaten.

Setelah meninggalnya Putri Malokhah kekuasaan Kadipaten Lasem lantas dirangkap oleh Sang Dhang Puhawang Pangeran Santipuspa, dengan dibantu oleh adiknya bernama Pangeran Santiyoga yang diamanahi untuk menempati Kadipaten Lasem.(CSL/rakyan)

Silahkan Tinggalkan Balasan (Komentar tidak akan muncul sebelum ada moderasi dari admin)