Dalam Carita Sejarah Lasem dikisahkan satu diantara bangsawan Lasem, trah Bhre Lasem Dewi Indu, Pangeran Santipuspa meninggal pada umur 50 tahun, dikubur di tempat beliau mengabdi sebagai Dhang Puhawang di Kaeringan tepatnya di sebelah barat Candi Samodrawela tempat pemujaan Sang Hyang Waruna, tidak jauh dari makam Putri Malokhah yang berada di Gedhong Taman Sitaresmi.

Makamnya dijadikan satu dengan makam 3 Punakawan-pamonge (abdi setia) yaitu : Ging Hong, Palon dan Kecruk. Abdi yang telah berbakti mengabdi sejak Pangeran Santibadra masih berada di Banjarmlati, yang mendapatkan amanat untuk membantu menjaga dan merawat putra-putra Pangeran Santibadra yaitu Pangeran Santipuspa dan semua adik-adiknya.

Mereka mengabdi sampai tua, mengikuti dan melayani Pangeran Santikusuma di Kaeringan dengan penuh pengabdian, sampai meninggal dan makamnya dijadikan satu di bumi Kajungan (pelabuhan) bernama Kaeringan tersebut.

Jaman dulu, kubur Pangeran Santipuspa dimuliakan oleh para Pathol dan Pambelah (Nahkoda dan Nelayan). Setiap tanggal 1 Rembulan jatuh pada bulan Waisaka, orang-orang berkumpul mengadakan upacara doa dan keramaian, tontonan berupa Pathol yang bergulat adu kekuatan, lomba mendayung prahu pulang pergi dari Kaeringan sampai Marongan, Jambean dan lain sebagainya.

Sebelum keramaian dan tontonan dimulai, terlebih dulu bebarengan dengan munculnya sinar matahari yang tampak teduh dari puncak Gunung Argapura menyinari seluruh kota Lasem, diadakan upacara melarung sesaji bubur baro-baro satambir anyar, dan kembang-kembang Mlati disawur, disebar-sebarkan oleh para perawan-perawan yang masih suci.

Bubur satambir dari makam Pangeran Santipuspa kemudian diarak, dibawa ke lautan lepas oleh keturunan Pangeran Santipuspa, dengan diiringi para perawan-perawan suci, lantas dinaikkan prahu dan dipajang-pajang, diangkat ramai-ramai oleh para Pathol dan Pambelah.

Lalu di bawa ke tengah samudra yang dalamnya kira-kira se-dada. Bubur baro-baro satambir didoakan oleh sesepuh, lantas dilarung sebagai tanda penghormatan untuk menetapi bakti Pangeran Santipuspa sebagai tanda hormat pangeran kepada Biyung Dhenok Cucut Lintang (Induk/ibu ikan cucut lintang), yang telah menolong mengangkat tubuh Pangeran Santipuspasaat Pangeran menemui bahaya.

Suatu ketika perahu yang dinaikinya terbalik dan tenggelam di tengah-tengah samudra, saat beliau tengah kembali pulang setelah berlayar dari Pulau Bawean, musibah karena dicelakai oleh orang yang memusuhinya.

Kanjeng Pangeran beserta abdi dan semua pasukannya tenggelam di lautan, berenang timbul tenggelam di tengah samudra luas dengan ombak yang besar.

Di saat beliau tenggelam itulah kemudian beliau memuji dan berdoa kepada Sang Hyang Waruna supaya mendapatkan pertolongan ; doa Pangeran Santipuspa terkabul, dari dalam samudra tampaklah seekor Ikan cucut besar dan ikan-ikan cucut kecil berjumlah ribuan yang berenang –renang dan mengambang di dekatnya.

Babon Cucut atau Induk ikan cucut yang besar itulah yang disebut-sebut oleh para Pambelah sebagai Cucut Biyung Dhenok (Induk/Ibu ikan Cucut).

Tubuh sang Pangeran Santipuspa didorong dan diangkat oleh Biyung Dhenok Cucut Lintang tersebut, diangkat dengan kepalanya ke permukaan dan di bawa sampai ke teluk Regol. Begitu juga dengan para abdi setia dan pasukannya, mereka diangkat oleh ikan-ikan cucut lain yang kecil-kecil tapi berjumlah sangat banyak dan digiring diselamatkan sampai ke tepi bersama-sama dengan sang Pangeran. Hingga akhirnya Pangeran Santipuspa dan semua awak kapal dapat selamat dari bahaya.

Pangeran Santipuspa kemudian menghaturkan puja dalam semedi dan mengucap bakti janji dengan ikrar “bahwa sejak hari itu, dia dan semua kuturunannnya jangan sampai mencelakai bahkan memakan ikan-ikan cucut lintang”.

Pangeran Santipuspa menurunkan Pangeran Kusumabadra
Pangeran Kusumabadra menurunkan Pangeran Santiwira
Pangeran Santiwira menurunkan Pangeran Tejakusuma I.(CSL/dohan)

Silahkan Tinggalkan Balasan (Komentar tidak akan muncul sebelum ada moderasi dari admin)