Dalam Carita Sejarah Lasem diceritakan Pangeran Tejakusuma IV manjadi Adipati Lasem sampai tua dan meninggal, sejak tahun jawa 1604 sampai tahun 1637. Memerintah dengan bijak, tidak mengecewakan seluruh rakyat juga kepada para Brandhal yang bersembunyi di hutan-hutan sekitaran Gunung Argasoka yang pada akhirnya bermukim dengan tenang, membuat rumah, membuat desa baru dan bekerja sebagai petani di tempat persembunyian, tanpa pernah disergap oleh Belanda dan antek-anteknya.

Makam P .Tejakusuma IV

Bahkan para Brandhal kemudian belajar menulis dan membaca aksara jawa, mereka juga senang membaca Pustaka Sabda Badrasanti Guritan yang digubah oleh Pangeran Tejakusuma I. Dan sungguh kebetulan pada tahun itu (tahun jawa 1604) di kampung Pecinan Lasem telah ada seorang Cina beserta saudara-saudaranya yang membuat kertas dari dhedhak (sisa gilingan padi).

Karena itu begitu mudah masyarakat Lasem dapat membeli kertas di kampung Pecinan tersebut ; terlebih kepada pada Penulis Pustaka Sabda Badrasanti, yang mendapatkan sumbangan kertas dari Adipati Lasem R.P. Arya Tejakusuma IV, yang begitu menyanjung dan memuliakan Pustaka Badrasanti warisan leluhurnya.

Karena begitu menghormati Ajaran Sabdanya mPu Kangeng Pangeran Santibadra, yang supaya semua keturunan-keturunannya mengagungkan Seni-Budaya sendiri, lantas R.P.A.A Tejakusuma IV sejak tahun Jawa 1606 membuat Wayang yang bisa di-tari-kan. Dibuat dari kayu jati yang dipahat, tangannya dipasangi cempurit (tangkai wayang), tubuh Wayang dibuat meniru dari bentuk tubuhWayang Beber.

Walaupun di keraton Mataram sudah ada Wayang yang dibuat dari kulit sapi, tetapi orang-orang di Lasem masih banyak yang menghormati sapi karena masih ada orang-orang yang memuji Lembu Nandini dengan memberi sesaji yang terletak di Pasraman Butun Punthuk Gebang, serta setiap tahun masih memberi upacara “Ngalungi”.

Orang-orang tersebut menghindari diri untuk memakan daging sapi dan menggunakan kulit sapi, kecuali orang-orang yang telah berpindah Agama Rasul (Islam) ; karena di agama Rasul memakan daging sapi sudah bukan lagi termasuk larangan.

Makam P.Tejakusuma IV-V

Pangeran Tejakusuma IV memerintah tukang pahat kayu dari desa Ketandhan bernama Ki Mijan, diajak untuk membuat wayang dari kayu jati dan dinamakan “Wayang Krucil”. Lakon cerita mengangkat cerita Panji Lasem, sejak dari Panji Malad (Pangeran Rajasawardhana) sampai ke lakon Panji Sitaresmi. Para Panji di Punakawani (didampingi abdi setia) oleh para tiga pamong setia dari Banjarmlathi, yaitu abdi yang mengabdi setia sampai meninggal ; Ghing Hong, Palon dan Kecruk.

Pada waktu itu juga, orang-orang dari dhukuh Ngablek begitu senang dan sering sekali membuat pagelaran tontonan bernama Emprak yang diketuai oleh mantan kepala Brandhal dari dhukuh Lowahbernama Ki Guntur ; tetapi karena bentuk dan sifat dari tontonan Emprak yang hanya berisi banyolan yang membosankan dan sering kali kasar dan tidak sopan, akhirnya R.P.A.A. Tejakusuma IV ikut campur merubah konsep pertunjukan dan cerita.

Ki Guntur diajak merubah membuat lakon baru tentang cerita Panji Kedhiri, yang menceritakan kisah kerajaan, diberi sifat-sifat Ksatria yang memberikan contoh mengenai aturan, sopan-santun dan kesusilaan. Lakon baru tersebut akhirnya di beri nama “Andhe-Andhe Lumut”.(CSL/rakyan)

 

Silahkan Tinggalkan Balasan (Komentar tidak akan muncul sebelum ada moderasi dari admin)