Dalam kitab Sejarahe Kawitane Wong Jawa dan Wong Kanung diceritakan kota Lasêm-Argasoka atau Kekuwuan Lasem adalah nama sebuah kota kuno (kekuwuan) yang berdiri di bekas reruntuhan Kerajaan Pucangsula pada abad ke-9, negeri Pucangsula diperkirakan hilang akibat bencana alam pada masa meletusnya Gunung Sangkapura di sebelah timur (Pulau Bawean) juga akibat meletusnya Gunung Muria di sebelah barat (Pulau Muria/Pulau Maura/Muryapada).
 Sebenarnya kota Lasem ini tidaklah yang pertama berdiri di tanah Nusa Argapura. Sebelumnya pernah berdiri Kedhatuan Tanjungputri yang terletak di utara-timur Pegunungan Lasem Argapura (sekitar desa Tanjungsari sekarang) dan juga Kerajaan Pucangsula yang terletak di pesisir barat Pegunungan Lasem yang terkenal dengan armada laut wanitanya yang kuat dan kejam.
 Tanjungputri menjadi desa kecil (penduduknya mengungsi/membuka desa baru di tempat lain) dan Kerajaan Pucangsula hilang akibat bencana alam. Kekuwuan Lasem menempati tanah bekas lautan di dataran rendah sebelah barat lereng Pegunungan Lasem yang mengalami pengendapan dan pendangkalan akibat bencana alam (gunung meletus, gempa bumi, tanah longsor, sedimentasi).
 Kota kuno ini didirikan oleh Ki Welug yang bergelar Rangga dan mendapatkan nama kehormatan Widyabadra, sehingga orang menyebutnya Ki Rangga Widyabadra.
Ia mendapat gelar tersebut karena menyelesaikan masa belajarnya di padepokan Gambiran oleh Bhikku Gam Swi Lang.

Berbondong-bondong masyarakat Kanung dari daerah Criwik dan Sindawaya, rombongan ini turun gunung dan membuka lahan pemukiman di sebelah barat Pegunungan Lasem yang kala itu masih berupa rawa-rawa dan hutan belantara.
 Tokoh yang berperan penting dalam rombongan tersebut adalah Ki Wêkêl dan Ki Wêlug. Mereka adalah kakak beradik dan kemungkinan mereka adalah orang-orang berpengaruh di kalangan masyarakat Kanung di sekitar Dataran Criwik hingga Sindawaya.
Alasannya, mereka yang memimpin suatu kelompok masyarakat apalagi di zaman kuno, adalah mereka yang berperan penting di dalam masyarakat, orang yang dituakan, orang bijaksana serta cerdas, disegani dan mereka yang dianggap mampu memimpin masyarakat agar menjadi lebih baik.
Saat sampai di dataran baru tersebut, rombongan pun akhirnya terbagi 2. Mereka yang ikut Ki Wêkêl membuka perkampungan di sebelah barat Sungai Lasem tepatnya di bumi Tegalamba-Karas, sedangan Ki Wêlug membuka perkampungan di barat Gunung Argasoka (Tapaan) tepatnya di bumi Sumbersili.
 Rombongan Ki Wêkêl mengadu nasib menjadi Tani-pokol, mereka menanam jagung-kodhok, kacang-tholo, dan télo-êlung.
Perkampungan yang mereka dirikan ini disebut Têgalamba dan Karas (Karasmula, Karasgêdhé, Karaskêpoh).
Rombongan lain yang dipimpin oleh adik Ki Wêkel yaitu Ki Wêlug, enggan untuk membuka perkampungan terlalu jauh dari daerah asalnya. Mereka membuka kampung di sekitar lereng Gunung Bugêl dan Gunung Gêbang, serta daerah di lembah sebelah barat Peg.Lasem yang tanahnya banyak terdapat sumber mata air dan airnya menggenangi daratan sehingga menjadi rawa-rawa
 Di sini banyak terdapat ikan kutuk (ikan gabus) dan ikan sili yang ukurannya besar-besar. Dari sanalah, masyarakat tersebut menyebut daerah ini Sumbêrsili. Mereka hidup sebagai Tani-ngothèk, hidup dengan mengunduh buah-buahan yang ada di hutan, serta menangkap ikan-ikan di rawa-rawa.
Orang-orang Tani-pokol dan Tani-ngothèk yang dipimpin Mpu Widyabadra tersebut merasa guyub dan senang sekali. Masyarakat lalu mengangkat Ki Wêlug Widyabadra menjadi Rangga, Pemimpin Karya.
 Dia lalu pindah dan membuat tempat tinggal baru yang dinamai Kêranggan. Tak menunggu waktu lama, desa tersebut menjadi semakin ramai seperti kota besar. Kemudian daerah itu dinamakan LASÊM.
 Ketika daerah itu ditetapkan menjadi KOTA LASEM di musim Bêdhidhing, diadakan upacara agung. Mpu Rangga Widyabadra membuat Candrasêngkala untuk mengingat momen tersebut, yaitu “Akarya kombuling manggala“. Akarya: 4, kombuling: 0, manggala: 8. (Membaca tahun Candrasengkala adalah dengan dibalik angkanya, jadinya adalah 804).
 Artinya KOTA LASÊM didirikan oleh Ki Wêlug Rangga Widyabadra pada tahun 804 Çaka (882 M). Mpu Widyabadra meninggal dunia pada tahun 920 M, dan abu jenazahnya disemayamkan bersama para leluhurnya di Pundhèn Tapaan, Gunung Argasoka (Tapaan).(rakyan dohan)

Silahkan Tinggalkan Balasan (Komentar tidak akan muncul sebelum ada moderasi dari admin)