VIVA.co.id – Situs pasujudan Sunan Bonang berada di atas sebuah bukit yang terletak di tepi pantai Binangun di wilayah Desa Bonang, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Pasujudan ini berada di dalam sebuah cungkup yang berada di sebelah selatan.
Di dalam cungkup itu ditemukan empat buah batu andesit berpermukaan datar. Batu yang terbesar dipercaya sebagai pasujudan Sunang Bonang, yaitu tempat Sunan Bonang menunaikan ibadah.
“Dari cerita tutur batu ini merupakan alas untuk shalat Sunan Bonang ketika memancing di laut. Karena rumahnya terletak di dekat pantai maka salah satu pekerjaan Sunan Bonang adalah sebagai nelayan,” ujar budayawan Lasem, Yon Suprayoga.
Diceritakan Yon, pernah suatu hari ketika beliau sedang memancing di laut tanpa terasa waktu shalat asar hampir habis. Jika Sunan Bonang pulang ke rumah, maka beliau tidak akan mendapatkan waktu salat asar, sehingga ia memutuskan untuk salat di bukit tersebut dengan menggunakan batu hitam sebagai alasnya.
Pada batu tempat salat ini terdapat bekas-bekas anggota badan seperti lutut dan telapak tangan yang menunjukkan bekas orang salat. Sebuah batu lain terdapat semacam cap telapak kaki yang oleh penduduk setempat dipercaya sebagai telapak kaki Sunan Bonang.
“Menurut kepercayaan penduduk, Sunan Bonang melakukan tirakat dengan cara berdiri di atas kaki sebelah sebagaimana burung bangau, karena itu kaki beliau membekas di sebuah batu yang dijadikan sebagai tempat berpijaknya,” ucap Yon menambahkan.
Ada dua buah batu lain yang bentuknya lebih kecil ketimbang lainnya. Ini  dipercaya sebagai bantal Sunan Bonang. Menurut cerita keempat batu itu berada di lereng bukit, kemudian dinaikkan ke atas untuk kemudian dibuatkan sebuah cungkup. Namun demikian tidak diketahui secara pasti kapan cungkup tersebut dibangun.
Ada juga cungkup lain yang berada di sebelah utara cungkup pasujudan Sunan Bonang. Di sini berisi makam yang oleh penduduk setempat diyakini sebagai makam Putri Cempo (Champa).
Cungkup ini memiliki segi arsitektur yang cukup indah. Empat di antara tiang penyangganya terbuat dari tulang belakang ikan paus. Jirat dan nisan makam ini sudah tidak asli lagi, tetapi merupakan tambahan pada 1918 ketika makam ini dipugar.
“Tokoh Putri Champa sendiri dipercaya oleh banyak orang sebagai murid Sunan Bonang. Nama aslinya adalah Bie Nang Tie. Dia ini berasal dari Champa masuk wilayah Tonkin yang dahulu masuk wilayah negara Kamboja sekarang masuk wilayah Vietnam,” tutur Yon.
Bie Nang Tie ini putri seorang dhampo awang (semacam laksamana) kapal-kapal niaga dari negri Champa yang mendarat di Teluk Regol (Bonang).
Dari hubungan niaga antara pihak Laksamana Bie Nang Oen dengan Adipati Lasem waktu itu Pangeran (Pr) Badranala, akhirnya Bie Nang Tie dipersunting sang Adipati menjadi permaisuri. Sejak saat itu namanya diubah menjadi Winarti Kumudawardhani.
Tampuk pimpinan berpindah tangan setelah Pangeran Badranala meninggal dunia dan digantikan oleh putranya Pangeran Wirabadjra. Winarti Kumudawardhani pun memilih menjadi bhikuni dan menetap di Banjar Melati (Kota Lasem bagian selatan). Bikhuni Winarti meninggal dunia di usia 56 tahun. Abunya dikubur (dimakamkan) di puncak gunung Bonang dan diberi batu nisan layaknya orang Islam (oleh Sunan Bonang). Oleh para keturunannya tempat penguburan abu itu disebut sebagai makam Putri Cempo.(dody)

Silahkan Tinggalkan Balasan (Komentar tidak akan muncul sebelum ada moderasi dari admin)