Sunan Bonang sebagai bagian dari walisanga jaman kerajaan Demak lebih banyak tinggal di kotaraja Demak daripada Tuban,  tempat asalnya.
Setelah Sunan Bonang mengundurkan diri dari kedudukannya di masjid Demak, dia berjalan menyisir pantai ke arah timur. Tujuannya ialah pulang ke kampung halamannya.
Ketika dia tiba di desa Bonang niatnya kembali ke Tuban berubah. Dia merasa trenyuh melihat keadaan penduduk desa yang miskin dan kekurangan sumber air.
Kebetulan dia memiliki pengetahuan yang diperlukan untuk menolong penduduk. Dia tahu tanda-tanda tanah yang mengandung sumber air.
Dalam beberapa hari saja beberapa sumur digali di Bonang dan penduduk tidak lagi kekurangan sumber air. Sejak itu Sunan Bonang memutuskan untuk tinggal di Bonang dan mendirikan pesujudan di Watu Layar.
Kabar bahwa Sunan Bonang mendirikan pesujudan terdengar di pesolok pantai utara pulau Jawa. Murid-murid yang haus pengetahuan agama segera berdatangan.
Maka dibangunlah sebuah pedepokan yang dilengkapi pentas pertunjukan wayang. Pedepokan ini berfungsi sebagai pesantren. Selain berkebun dan bertani, Sunang Bonang dan santri-santrinya mengembangkan usaha kerajinan dan pertukangan.
Para santri juga menangkap ikan dan udang kecil yang kemudian diolah menjadi terasi. Sampai sekarang terasi Bonang sangat terkenal. Pengajaran di pesantren tidak terbatas pada ilmu fiqih, usuluddin dan tasawuf, tetapi juga seni, sastra dan arsitektur.
Arkeolog Nurhadi Rangkuti menuliskan bahwa memang ditemukan  145 sumur kuno di Desa Bonang, berbentuk persegi dan bulat dari bata dalam penelitian arkeologi yang dilaksanakan oleh Balai Arkeologi Yogyakarta. Temuan sumur kuna ini menunjukkan bahwa pada zaman dulu di Desa Bonang merupakan permukiman yang cukup padat dan rapat.
Sejumlah arkeolog memperkirakan bahwa Situs Bonang pernah menjadi pemukiman kalangan pedagang wiraswasta menengah. Selain sumur ditemukan sisa-sisa rumah tinggal berupa pondasi dan temuan- temuan keramik, tembikar, manik-manik dan alat-alat dari logam.
Dua sumur persegi di Masjid Bonang dan di pesarean dipercaya penduduk sumur pertama yang dibuat di Desa Bonang oleh Sunan Bonang. “Sunan Bonang menancapkan tongkat saktinya ke tanah. Lalu keluar lah air sepanjang tahun ditempat itu”, kata juru kunci Pasujudan Sunan Bonang.”
Air ini tak pernah payau dan kering, meski sumur-sumur lainnya telah berubah rasa dan kering pada musim kemarau”.
Bonang diduga terus berkembang menjadi permukiman elit menengah, karena pelabuhannya tetap berfungsi baik pada masa-masa kemudian.
Rumah-rumah tradisional  beratap limas dan berdinding kayu jati merupakan warisan dari zaman keemasan perdagangan di Bonang. Penduduk asli sudah tidak mengetahui lagi siapa orang pertama yang mendirikan rumah tradisional yang kini ditempati mereka. Mereka hanya tahu sampai sejarah kakek dan buyut mereka saja.
“Menurut orang-orang tua dulu, banyak penduduk Bonang yang kaya raya menjadi saudagar. Pelabuhan Binangun sampai sebelum Gunung Krakatau meletus (1885) masih menjadi pelabuhan yang ramai”, kata Kasram (60), warga Bonang.(berbagai sumber/rakyan)

Silahkan Tinggalkan Balasan (Komentar tidak akan muncul sebelum ada moderasi dari admin)