Dalam  Sejarah Kawitane Wong Jawa dan Wong Kanung yang merupakan sisipan  kitah Badrasanti diceritakan,  setelah Hang Sambadra meninggal pada tahun 426 M. Dattsu Agung negara Pucangsulo – Lasem; Dewi Sibah ,membuat ketetapan :
1. Mengangkat putranya yang bernama Arya Asvendra menjadi Dhatu Anom Pucangsulo dan berkedudukan di Gebang,gunung Bugel – Lasem.
2. Pusat Angkatan Laut Pucangsulo dipindah ke negara vasal Keling yang dikuasai oleh adik Dewi Sibah; Dewi Simah yang didampingi Hang Sabura,suami Dewi Simah.
3. Rsi Agastya,suami Dewi Sibah diwisuda menjadi Dhatu Batur yang beribu kota di Baturetna dengan pelabuhan Banjar Rabwan.
Setelah beberapa tahun orang – orang negara Endrya Satvamayu yang mendengar kabar bahwa Rsi Agastya telah menjadi Dhatu di negara Baturetna. Mereka berbondong – bondong pindah mengikuti sang Rsi ke Baturena. Oleh sang Rsi mereka disuruh mengelolah tanah Baturetna (Dieng) yang subur. Dan yang tidak mendapat pekerjaan itu disuruh menambang Belerang dikawah – kawah sekitar gunung Dieng dan diekpor ke negara Tiongkok melalui pelabuhan Banjar Rabwan.
Nana -penulis
Negara vasal Pucangsulo ; Negara Baturetno menjadi kaya dan makmur. Maka sang Rsi memerintahkan membuat banyak candi – candi Shiwa yang terletak di Punggur – gunung Dieng yang ada telaganya (Telaga Warna) dan diapit bukit – bukit. Tempat itu kemudian diberi nama: Prasraman Endrya pra-Astha.
Sementara itu atas persetujuan Dattsu Agung negara Pucangsulo. Hang Sabura juga ikut menambang Belerang di sebelah timur gunung Dieng. Dan membuat pemukiman penambangnya di utara desa Kejajar. Belerang tersebut juga dijual ke pedagang negara Tiongkok.
 Dan jalan pengangkuta Belerang tersebut melalui Jlumprit, Adireja, Candhirata, Sukareja, ke timur ke arah Singaraja sampai dinaikan perahu di sungai Bodri dan menuju muara sungai Bodri diteluk Bodri – Laut Jawa.
Teluk Bodri yang diapit gunung – gunung Singaraja membuat keadaannya lebih luas dan aman sehingga banyak pedaggang dari Tiongkok memilih berlabuh disini dari pada di Banjar Rabwan.
Persaingan yang awalnya kecil ini semakin membesar dan membesar, dan tak dapat dibendung lagi. Maka pada tahun 436 Masehi  terjadilah perang terbuka antara negara vasal Pucangsulo itu merebutkan perdagangan Belerang. Dan perang saudara itu dinamai ; Perang Saudara Endrya pra Astha.
 Rsi Agastya gugur dalam perang saudara antara negara vasal Pucangsulo; Baturetna dan Keling yang terjadi pada tahun 436 Masehi itu.Orang – orang Endriya Satvamayu anak buah sang Rsi melarikan diri dan pulang ke negara Endriya Satvamayu (Cirebon Girang?).
Kota Baturetna,Prasaman Agung Endrya pra Astha (komplek candi – candi Dieng) dan penambangan – penambangan Belerang diduduki prajurit – prajurit dari negara Keling. Yang bermarkas di Adireja.
Mendengar kabar bahwa ayahnya telah gugur oleh prajurit – prajurit bibi dan pamannya sendiri serta negara Baturetna dikuasai maka Arya Asvendra berniat “bela pati” melabrak ke Dieng. Walau ibunya; Dewi Sibah telah melarangnya.
Namun secara sembunyi – sembunyi Arya Asvendra berangkat melalui laut dan mendarat di hutan Rabwan,Bawang dan terus ke selatan ke arah komplek/ pasraman  Agung Endrya pra Astha dan tambang – tambang Belerang.
Sial bagi Arya Asvendra baru saja dapat memukul mundur pasukan penjaga pintu pasraman dia terkena paser berajun dari musuh tepat di depan Candi Sambrada tempat pemujaan Sramana/ Pendeta dari negara Pucangsulo.
Nyawa Arya Asvendra tak tertolong. Banyak pula pasukannya yang gugur di hutan Rabwan dan jasadnya tak terurus. Pasukannya kocar – kacir .. pulang ke Pucangsulo – Lasem.
Akibat – akibat dari perang tersebut,adalah :
1. Dattsu Agung Dewi Sibah meninggalkan tahta dan menjadi pertapa di Pasraman Taman Argasoka,Gunung Tapa’an. Pemerintahan Pucangsulo diserahkan kepada patihnya. Dengan perintah untuk tidak menyerang negara Keling. Negara Pucangsulo menjadi tidak berkembang.
2. Negara Pucangsulo tidak memiliki penerus.
3. Negara Keling melepaskan diri dari kekuasan negara Pucangsulo dan menjadi negara merdeka sendiri.
4. Pegunungan Dieng, penambangan dan perdagagan Belerang dikuasai oleh negara Keling. Pucangsulo kehilangan pendapatan.
(Nana’s)

Silahkan Tinggalkan Balasan (Komentar tidak akan muncul sebelum ada moderasi dari admin)