Agresi I  Belanda  1947 juga menyerang kota Semarang. Untuk menghadang perluasan Belanda, pasukan Indonesia merencanakan mencegat di Sayung Demak.
Pemkab Rembang berpartisipasi akan mengirim relawan pejuang. Dalam pertemuan yang diprakarsai bupati, KH.Baidlowi Lasem  menyarankan yang dikirim 2 orang yaitu KH Bisri Mustofa Rembang dan Kyai Abu Bakar Pamotan, dengan sabdonya keduanya bisa menghilang.
Dalam perjalanan, Kyai Abu Bakar menangis karena merasa dirinya tidak memiliki ilmu bisa menghilang, kemudian ditenangkan hatinya oleh Kyai Bishri Musthofa ayah Gus Mus.
 Ketika latihan, semua disuruh tiarap hanya Kyai Abu Bakar tidak tiarap. Ketika ditanya komandan, katanya tidak mengerti artinya. Waktu diterangkan dalam bahasa Jawa, malah masih bisa bercanda, katanya kalau itu yang dimaksud biasa dengan bojo.
Saat perang berkecamuk, berkat sabda KH.Baidlowi atas kehendak Allah SWT benar saja Kyai Abu Bakar mudah menjatuhkan banyak korban di pihak Belanda karena bisa menghilang.
Saking senangnya, mencari Kyai Bishri berteriak-teriak melaporkan dirinya bisa menghilang. Dijawab sambil guyonan, hati-hati rak iso balik.
Kyai dahulu memang hebat. Soal sabdo kyai yang mustajab, pernah terjadi juga dengan Kyai Ronggo Sulang.
Waktu mudanya tidak punya ilmu kanuragan datang mau nyantri ke pesantren Mbah Kholil Bangkalan Madura.
Sebelum sampai, Mbah Kholil menyampaikan ke santrinya sebentar lagi akan datang anak muda yang jaduk atau kebal. Maka para santri siap-siap membawa clurit, golok, pisau dan senjata tajam lainnya. Waktu datang segera dikerubuti, Ronggo muda tidak luka sedikit pun. Berkat sabdo kyai, sejak itu beliau menjadi jaduk.
Tentang kepahlawanan kyai, seperti juga pada kyai Kholil Pesantren Buorno Bojonegoro.  Beliau berani ke medan Perang 10 Nopember 1945 cukup membawa krikil, sampai di medan tempur bisa berubah menjadi ledakan mesiu.
Dan beliau salah satu pejuang yang ikut merobek bendera Belanda di Hotel Yamato dan sobekannya sempat  dibawa pulang, namun kini entah ada dimana. Beliau adalah ayah dari Ibu Nyai Hajjah Jamilah atau mertua Mbah Mik.
Penulis :Abdullah Hamid
Sumber seperti yang disampaikan langsung dari Almaghfurlah KH A.Hamid Baidlowi.

Silahkan Tinggalkan Balasan (Komentar tidak akan muncul sebelum ada moderasi dari admin)