Daftar raja-raja Lasem

Menurut naskah Veda Badra Santi (Mpu Santibadra) maupun Kitab Carita Lasem (Mpu Panji Karsono), urutan raja-raja Lasem adalah sebagai berikut.

  • Bhre Lasem Duhitendu Dewi(Dewi Indu Purnamawulan), raja pertama Kerajaan Lasem
  • Pangeran Badrawardana, dia adalah putra Bhre Lasem Duhitendu Dewi dan Bhre Mataun
  • Rajasawardana
  • Pangeran Wijayabadra, putra Pangeran Badrawardana
  • Pangeran Badranala, putra Pangeran Wijayabadra
  • Pangeran Wirabajra, putra Pangeran Badranala dan Putri Cempo Bi Nang Ti, pusat pemerintahan dipindah di Bhumi Bonang Binangun
  • Pangeran Wiranagara, putra Pangeran Wirabajra, ia juga menantu Sunan Ampel

Pada saat Pangeran Wiranagara wafat, pemerintahan dipegang oleh istrinya yaitu Nyi Ageng Maloka putri Sunan Ampel dan pusat pemerintahan dipindah kembali ke Bhumi Lasem depan Puri Kriyan dengan gelar Adipati Lasem. Ia dibantu oleh sanak saudara dari pihak suami, Pangeran Santipuspa putra Tumenggung Wilwatikta Mpu Santibadra.

Keadaan penduduk

Penduduk Lasem pada umumnya bekerja sebagai petani, nelayan, pedagang, maupun pengrajin. Kerajaan Lasem memang terkenal sebagai negara pesisir, dengan pelabuhan utamanya terletak di Pelabuan Kaeringan dan Pelabuhan Regol.

Agama resmi Kerajaan Lasem pada masa pemerintahan Duhitendu Dewi sampai masa pemerintahan Pangeran Wirabajra adalah Çiwa-Buddha selain ada pula Hindu aliran Siwa, Buddha, dan Kejawen. Ketika Pangeran Wiranagara berkuasa, agama resmi kerajaan berganti menjadi Islam walaupun agama lain masih tetap diakui sebagai agama kerajaan.
Keluarga Bi Nang Un menetap di Lasem
Batik Lasem motif Tiga Negeri klasik

Pada kira-kira tahun Syaka 1335 (1413 Masehi), ada salah seorang Dhang Puhawang (Lasem: Laksamana) dari negara Cempa yang bernama Bi Nang Un beserta keluarga dan orang-orang warga dari negerinya datang di Lasem, berlabuh, mendaratkan kapal-kapalnya di pelabuhan Regol. Kedatangan mereka karena mereka semua hendak pindah dari negara Cempa dan menetap di bumi Lasem yang sebelumnya telah mendapatkan izin dari Adipati Pangeran Wijayabadra. Setahun sebelum kedatangan mereka, Bi Nang Un telah terlebih dulu datang di Lasem karena ikut berlayar menjelajah Bawana (dunia) bersama Dhang Puhawang Cheng Ho dari negara Tiongkok.

Ketika Bi Nang Un melihat betapa melimpah dan suburnya bumi Lasem, juga orang-orang sekitar yang begitu ramah apalagi di Lasem telah banyak juga orang-orang Cempa yang pindah dan menetap di sana, seketika itu juga timbul keinginan Dhang Puhawang Bi Nang Un untuk ikut pindah dan menetap di Lasem. Dirinya lantas meminta izin dan pamit kepada Dhang Puhawang Cheng Ho, tidak dapat meneruskan perjalanannya berlayar menjelajah Bawana (dunia) dan hendak pindah menetap di Lasem.

Permintaan tersebut akhirnya juga mendapatkan restu dari Pangeran Wijayabadra selaku Adipati Lasem tetapi dengan syarat jika kepindahannya kelak beserta keluarga dan warga-warga lain dari Cempa diharapkan dapat membawa banyak benda atau tanaman-tanaman yang di tanah Jawa tidak ada, seperti; Pari Campa Klewer (Padi Campa), Ketan Ireng (ketan hitam), pelem blungkow (mangga blungkow), Tebu Limpow, Delimow (delima), Pitik Cempow (ayam Campa), merak ulese biru (burung merak berbulu biru), serta orang-orang yang ahli di bidang Kesenian.

Orang-orang Campa itu perawakan dan kulitnya mirip sekali dengan orang Jawa. Yang laki-laki memakai “gelung kadhal-menek” dan sisir “penyu-plengkung”, dan menggunakan sarung gembaya. Jauh sekali dengan kebiasaan dan perawakan orang-orang Cina. Orang Campa beragama Buddha dan memuja Sang Lokeswara, sedangkan orang-orang dari Cina beragama Kong Hu Cu dan memuja dewa beraneka rupa.

Lelaki Cina memakai kuncir Towcang, dan bercelana gombyor hitam. Kedatangan Bi Nang Un beserta keluarga dan rakyat-rakyatnya diterima dengan sangat baik oleh Adipati Lasem Pangeran Wijayabadra, lantas mendapatkan tanah untuk bertempat tinggal di bumi Kemandhung sampai ke Telangbenthung.

Orang-orang dari Campa pintar sekali membuat Slepi (wadah tembakau) dari bulu merak, pintar membatik, membuat perhiasan dari emas, menari dan membuat gamelan. Anak-anak kecil dan juga generasi mudanya entah laki-laki atau perempuan pasti bisa menari dan menabuh gamelan untuk upacara-upacara pemujaan dalam agama Buddha. Istri Bi Nang Un bernama Na Li Ni, mereka mempunyai dua orang anak, pada saat kepindahan merek ke bumi Lasem anak yang pertama berusia lima tahun bernama Bi Nang Na, anak yang kedua berumur tiga tahun bernama Bi Nang Ti.

Bi Nang Un berserta keluarga dan orang-orangnya menetap di bumi Kemendhung di sebelah selatan sungai, sedangkan yang di sebelah utara sungai terpagari tembok beteng kota Kadipaten Lasem yang panjang membujur ke timur sampai ke Taman Kamalapuri. Sepanjang pagar pekarangan rumah di Kemandhung membujur terus ke selatan sampai ke tanjakan pekarangan Juru Demung ditanami kembang melathi rangkep (bunga melati rangkep) yang disukai oleh Putri Na Li Ni, karena itulah tempat menetapnya Pangeran Bi Nang Un dinamakan Taman Banjarmlati.

Di Taman Banjarmlati tersebut Putri Na Li Ni mengajar membuat slepi lar merak (kipas dari bulu merak), membatik dan mengajari menari kepada anak-anak putri Kemandhung dan juga mengajari kepada putra putrinya sendiri.

Kakek Ke Tong Dhaw yang merupakan paman putri Na Li Ni, menjadi Pujangga Seni Karawitan dan mengajar Karawitan kepada para pemuda di desa tersebut; juga mengajarkan ilmu Dharma Buddha Sakyamuni. Kakek Mpu Pandhita Asthapaka (Ke Tong Dhaw) tersebut membuka hutan sebelah selatan bumi Kemandhung, dan membuat sendang (mata air) yang airnya dengan sangat deras keluar dari tanah padas (tanah keras/gersang) yang sumber airnya dari sumber payung, sendang (mata air) tersebut lantas di beri nama sendang “Jalatundha”.

Setelahnya daerah tersebut di beri nama desa Ketandhan, dengan Kakek Ke Tong Dhaw menjadi cikal bakal desa tersebut dengan panggilan Buyut Ketandha.

Pada masa-masa inilah, lahir Batik Lasem yang sampai sekarang menjadi ikon batik pesisiran khas Lasem yang kaya akan perpaduan unsur-unsur budaya dengan warna yang khas dan motif yang unik.
Peninggalan sejarah

Banyak peninggalan pada masa Kerajaan Lasem, namun banyak juga yang telah dimusnahkan oleh pihak Kolonial pada masa penjajahan sebab para penjajah kesulitan jika Wong Lasem bersatu.

Akhirnya mereka memecah belah Wong Lasem dengan memelencengkan sejarah, membakar habis kitab-kitab kuno, dan menghancurkan bangunan bersejarah seperti candi-candi, kecuali Kitab Sabda Badra Santi yang disimpan di rumah Raden Panji Margono yang masih keturunan dari raja-raja Lasem sekaligus putra Adipati Lasem Tejokusumo V. Peninggalan yang masih tersisa antara lain.

  • Punden Perabuan Eyang Santibadra, Bukit Tapaan, Ngasinan, Warugunung
  • Pertapaan Gebang, Warugunung
  • Punden Perabuan Bhre Lasem (Peruntuhan Candi Maladresmi), Gowak
  • Pertapaan Mandirasari, Gunung Selembu, Rakitan
  • Pelabuhan Regol, Bonang Binangun
  • Makam Pangeran Wiranegara, Sriombo
  • Makam Pangeran Wirabajra, Sriombo
  • Perabuan Putri Cempo Bi Nang Ti dan Pangeran Badranala, Bonang
  • Reruntuhan Taman Sitaresmi, Caruban, Gedongmulyo
  • Reruntuhan Taman Kamalapuri, Bumi Makam Kutha, Sumbergirang
  • Reruntuhan Candi Pucangan, Tasiksono
  • Reruntuhan Candi Ratnapangkaja, Semangu, Karangturi
  • Situs Batu Tapak (Tapak Kaki Hayam Wuruk), Kajar
  • Situs Lingga Kajar, Kajar

Pegunungan Lasem, nampak puncak Argopuro, perkampungan Warugunung, Bukit Gebang (sebelah kampung), Bukit Tapaan, dan Bukit Congol
Situs Batu Tapak di Kajar, merupakan cap kaki Prabu Hayam Wuruk saat mengujungi Kerajaan Lasem.

Kepustakaan

Mpu Santibadra. Veda Sabda Badra Santi
Panji Karsono. 1920. Carita (Sejarah) Lasem
Mbah Guru. 1996. Sejarah Kawitane Wong Jawa lan Wong Kanung
Slamet Muljana. 1979. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara
Akrom Unjiya. 2008. Lasem: Kota Dampoawang Sejarah yang Terlupakan

(Wikipedia)

Profile LKCB

Dalam rangka mewujudkan cita-cita pembangunan nasional secara utuh khususnya di Kabupaten Rembang, maka banyak hal-hal yang harus diperhatikan dan diperlukan penanganan khusus. Untuk itu berbagai masalah harus segera diselesaikan dan ditindaklanjuti. Termasuk dalam hal ini adalah pelestarian cagar budaya dan peninggalan-peninggalan bersejarah yang kurang mendapatkan perhatian dari berbagai pihak. Namun masalah tersebut bukanlah masalah yang mudah dan ringan untuk dijawab atau diselesaikan, karena akan melibatkan beberapa pihak yang terkait serta memerlukan banyak tenaga, pikiran, dan bahkan membutuhkan penanganan khusus. Oleh karena penyatuan visi dan misi demi tercapainya maksud dan tujuan di atas..

Geografi, Pemerintahan, Demografi

Lasem adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Indonesia. Merupakan kota terbesar kedua di Kabupaten Rembang setelah kota Rembang. Lasem  dikenal sebagai kota santri, kota pelajar dan salah satu daerah penghasil buah jambu dan mangga selain hasil dari laut seperti garam dan terasi. Batik Lasem sangat terkenal karena cirinya sebagai batik pesisir yang indah dengan pewarnaan yang berani.

Wisata Batik, Wisata Belanja, Wisata Religi, Wisata Sejarah

Lasem terkenal sebagai Kota Batik terutama Batik Tulis Laseman. Hampir di setiap desa dijumpai pengrajin batik. Selain itu juga terdapat di beberapa desa di sekitar Lasem yang terkenal sebagai desa wisata Batik

Masjid Jami’ Lasem, Lasem Kota Ilmu

Sejak dahulu kota kecamatan ini terkenal sebagai Kota Santri. Peninggalan pesantren-pesantren tua di kota ini dapat kita rekam jejaknya hingga sekarang. Banyak ulama-ulama karismatik yg wafat di kota yg terkenal dgn suhu udara yg panas ini. Sebut saja Sayid Abdurrahman Basyaiban (Mbah Sambu) yang kini namanya dijadikan jalan raya yg menghubungkan Lasem–Bojonegoro, Baidhowi, KH. Khalil, KH. Maksum, KH. Masduki dll. Sebagian makam tokoh masyarakat Lasem ini dapat anda jumpai di utara Masjid Jami’ Lasem. Maka tidak berlebihan jika Lasem berjuluk sebagai kota santri, mengingat banyaknya ulama, Pondok Pesantren dan jumlah santri yang belajar agama islam di kota ini.

Pada masa kerajaan Lasem, Pada masa kadipaten Lasem,

Situs Kapal Kuno di Punjulharjo, terletak di bagian barat Sungai Kahiringan. Dulu daerah ini masih masuk kawasan Lasem, namun sekarang terletak di Kec.Rembang. Kapal yang ditemukan merupakan Bangaki Kapal Utuh beserta perabotan dan arca kepala, berdasarkan perhitungan secara radiokarbon diketahui bahwa kapal dari abad ke-7 M.

This is custom heading element

Kerajaan Lasêm adalah nama sebuah kerajaan bawahan Majapahit yang berdiri di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur pada abad ke-14. Kerajaan ini banyak meninggalkan bukti sejarah baik yang bercorak Hindu, Buddha, maupun Islam, namun pada masa penjajahan Belanda peninggalan yang ada di Lasem dihancurkan oleh Belanda (Naskah Carita ‘Sejarah’ Lasem). Kerajaan Lasem berganti statusnya menjadi Kadipaten Lasem pada abad ke-15 sepeninggalan Pangeran Wiranegara.