L

asem adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Indonesia. Merupakan kota terbesar kedua di Kabupaten Rembang setelah kota Rembang.

Lasem  dikenal sebagai kota santri, kota pelajar dan salah satu daerah penghasil buah jambu dan mangga selain hasil dari laut seperti garam dan terasi. Batik Lasem sangat terkenal karena cirinya sebagai batik pesisir yang indah dengan pewarnaan yang berani.

Geografi

Kecamatan ini merupakan salah satu kecamatan di pesisir pantai laut Jawa di kabupaten Rembang, berjarak lebih kurang 12 km ke arah timur dari ibukota kabupaten Rembang, dengan batas-batas wilayah meliputi:

  • Sebelah utara berbatasan dengan laut Jawa
  • Sebelah timur berbatasan dengan kecamatan Sluke
  • Sebelah selatan berbatasan dengan kecamatan Pancur
  • Sebelah barat berbatasan dengan kecamatan Rembang.

Kecamatan Lasem mempunyai luas wilayah mulai dari pesisir laut Jawa hingga ke selatan. Di sebelah timur terdapat gunung Lasem. Wilayahnya seluas 4.504 ha. 505 ha diperuntukkan sebagai pemukiman, 281 ha sebagai lahan tambak, 624 ha sebagai hutan milik negara. Letaknya yang dilewati oleh jalur pantura, menjadikan kota ini sebagai tempat yang strategis dalam bidang perdagangan dan jasa.

Pemerintahan

Sekarang ini, Lasem hanya berbentuk Kecamatan. Kantor Kecamatan terletak di Jalan Sunan Bonang Km.01 atau Jalan Lasem-Tuban. Kecamatan Lasem terdiri atas 20 desa yang terbagi ke dalam 84 Rukun Warga (RW) dan 219 Rukun Tetangga (RT), dengan ibukota kecamatan (gedung kecamatan) terletak di desa Soditan.

Adapun desa-desa tersebut adalah:

  • Babagan
  • Binangun
  • Bonang
  • Dasun
  • Dorokandang
  • Gedongmulyo
  • Gowak
  • Jolotundo
  • Kajar
  • Karangturi
  • Karasgede
  • Ngargomulyo
  • Ngemplak
  • Selopuro
  • Sendangasri
  • Sendangcoyo
  • Soditan
  • Sriombo
  • Sumbergirang
  • Tasiksono

Empat desa diantaranya berada di lereng gunung Lasem yaitu desa Gowak, Kajar, Sengangcoyo dan Ngargomulyo sedangkan 5 desa diantaranya merupakan desa pesisir yang berbatasan langsung dengan laut Jawa. Lima desa tersebut adalah: Bonang, Dasun, Binangun, Gedongmulyo dan Tasiksono. Dan 8 desa masuk dalam kawasan kota Lasem, yaitu: Dorokandang, Karangturi, Soditan, Gedongmulyo, Ngemplak, Babagan, Jolotundo dan Sumbergirang.

Demografi

Jumlah penduduk kecamatan Lasem sejumlah 47.868 jiwa (tahun 2005). 23.846 jiwa diantaranya berjenis kelamin laki-laki dan sisanya 24.022 perempuan. Sebagian besar penduduknya bermata pencarian sebagai petani, pedagang dan nelayan.

Dibidang pendidikan, di kecamatan Lasem terdapat:

  • 33 Taman Kanak-kanak (TK) dan Raudlatul Athfal
  • 35 Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah
  • 10 Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah
  • 5 Sekolah Menengah Atas dan Madrasah Aliyah
  • 4 Sekolah Menengah Kejuruan
  • 18 Pondok Pesantren

Dibidang keagamaan, di kecamatan Lasem terdapat 31 masjid, 130 mushalla dan 11 gereja Kristen, 12 Gereja Katholik, 3 klenteng dan 3 wihara (1 wihara tak berpemeluk).

Etnis yang tersebar di Lasem adalah suku Jawa, suku Tionghoa-Indonesia, keturunan Campa dan perpaduan etnis-etnis tersebut yang melahirkan etnis Lasem. Selain itu juga ada etnis lain sebagai pendatang di kota Lasem seperti orang Sunda, Batak, dll.

Sebagai sebuah kota yang unik dan menjadi perhatian bagi para peneliti baik dalam negeri maupun luar negeri, Lasem mempunyai predikat atau julukan yang khas.

*******************************************************

Profile LKCB

Dalam rangka mewujudkan cita-cita pembangunan nasional secara utuh khususnya di Kabupaten Rembang, maka banyak hal-hal yang harus diperhatikan dan diperlukan penanganan khusus. Untuk itu berbagai masalah harus segera diselesaikan dan ditindaklanjuti. Termasuk dalam hal ini adalah pelestarian cagar budaya dan peninggalan-peninggalan bersejarah yang kurang mendapatkan perhatian dari berbagai pihak. Namun masalah tersebut bukanlah masalah yang mudah dan ringan untuk dijawab atau diselesaikan, karena akan melibatkan beberapa pihak yang terkait serta memerlukan banyak tenaga, pikiran, dan bahkan membutuhkan penanganan khusus. Oleh karena penyatuan visi dan misi demi tercapainya maksud dan tujuan di atas..

Wisata Batik, Wisata Belanja, Wisata Religi, Wisata Sejarah

Lasem terkenal sebagai Kota Batik terutama Batik Tulis Laseman. Hampir di setiap desa dijumpai pengrajin batik. Selain itu juga terdapat di beberapa desa di sekitar Lasem yang terkenal sebagai desa wisata Batik

Masjid Jami’ Lasem, Lasem Kota Ilmu

Sejak dahulu kota kecamatan ini terkenal sebagai Kota Santri. Peninggalan pesantren-pesantren tua di kota ini dapat kita rekam jejaknya hingga sekarang. Banyak ulama-ulama karismatik yg wafat di kota yg terkenal dgn suhu udara yg panas ini. Sebut saja Sayid Abdurrahman Basyaiban (Mbah Sambu) yang kini namanya dijadikan jalan raya yg menghubungkan Lasem–Bojonegoro, Baidhowi, KH. Khalil, KH. Maksum, KH. Masduki dll. Sebagian makam tokoh masyarakat Lasem ini dapat anda jumpai di utara Masjid Jami’ Lasem. Maka tidak berlebihan jika Lasem berjuluk sebagai kota santri, mengingat banyaknya ulama, Pondok Pesantren dan jumlah santri yang belajar agama islam di kota ini.

Pada masa kerajaan Lasem, Pada masa kadipaten Lasem,

Situs Kapal Kuno di Punjulharjo, terletak di bagian barat Sungai Kahiringan. Dulu daerah ini masih masuk kawasan Lasem, namun sekarang terletak di Kec.Rembang. Kapal yang ditemukan merupakan Bangaki Kapal Utuh beserta perabotan dan arca kepala, berdasarkan perhitungan secara radiokarbon diketahui bahwa kapal dari abad ke-7 M.

This is custom heading element

Kerajaan Lasêm adalah nama sebuah kerajaan bawahan Majapahit yang berdiri di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur pada abad ke-14. Kerajaan ini banyak meninggalkan bukti sejarah baik yang bercorak Hindu, Buddha, maupun Islam, namun pada masa penjajahan Belanda peninggalan yang ada di Lasem dihancurkan oleh Belanda (Naskah Carita ‘Sejarah’ Lasem). Kerajaan Lasem berganti statusnya menjadi Kadipaten Lasem pada abad ke-15 sepeninggalan Pangeran Wiranegara.

Daftar Raja Lasem

Pada saat Pangeran Wiranagara wafat, pemerintahan dipegang oleh istrinya yaitu Nyi Ageng Maloka putri Sunan Ampel dan pusat pemerintahan dipindah kembali ke Bhumi Lasem depan Puri Kriyan dengan gelar Adipati Lasem. Ia dibantu oleh sanak saudara dari pihak suami, Pangeran Santipuspa putra Tumenggung Wilwatikta Mpu Santibadra.